GRAPHVIZ

PERANGKAT LUNAK UNTUK MENCIPTA GRAFIK

Pendahuluan

Banyak  buku tentang teori grafik dan Bahan Ajar Teori Grafik disusun tanpa bantuan perangkat lunak komputer. Salah satu perangkat lunak komputer untuk melaksanakan visualisasi grafik adalah Graphvis.

Sembilan contoh tersedia dan tiga contoh dari semua contoh itu merrupakan grafik berarah sedangkan 6 contoh merupakan grafik tidak berarah. Komposisi contoh-contoh ini mewakili contoh-contoh dalam buku-buku teori grafik dan bahan ajar teori grafik. Graphvis dapat dipakai untuk mencipta grafik berarah atau grafik tidak berarah sehingga para penulis buku teori grafik dan para penulis bahan ajar teori grafik dapat memanfaatkan Graphvis.

Penulis sendiri tidak memakai perangkat lunak untuk teori grafik seperti Krackplot, Tulip, Graph Magic, dan Graphvis  penulis memakai Ucinet 6 for Windows dan Netdraw yang lebih canggih daripada keempat perangkat lunak komputer ini.  Ucinet dan Netdraw dicipta dan dikembangkan untuk analisis jaringan sosial sebagaimana dijelaskan di atas akan tetapi dapat juga dipakai dalam teori grafik berarah.

Analisis jaringan kejahatan teroris bom Bali dapat dilakukan dengan memanfaatkan Ucinet dan Netdraw.

Beberapa Contoh

Paket program Graphvis mengandung sembilan contoh dan contoh-contoh ini dapat disajikan di bawah ini.

Contoh Kesatu

Contoh Kedua

Contoh Ketiga

Contoh Keempat

Contoh Kelima

Contoh Keenam

Contoh Ketujuh

Contoh Kedelapan

Contoh Kesembilan

Sembilan contoh terkandung dalam paket program Graphvis dan tiga contoh merupakan contoh grafik berarah sedangkan enam contoh merupakan grafik tidak berarah. Teoori grafik tidak berarah merupakan teori grafik tidak berdasar atas matematika dan tidak berdasar atas teori matriks. Grafik tidak berarah mengandung kelemahan dan ketidakjelasan karena garis yang dipakai adalah garis tanpa anak panah.

Rangkuman

Graphvis dapat dipakai untuk mencipta grafik tidak berarah dan grafik berarah. Graphvis juga dapat dipakai untuk mencipta gelang (loop). Grafik tidak berarah mengandung beberapa kelemahan dan ketidakjelasan.

Tulisan ini disusun untuk membuktikan bahwa pembahasan mengenai teori grafik lebih banyak memakai grafik tidak berarah daripada grafik berarah.

Permata Depok Regency, 12 Maret 2022

GRAFIK TIDAK BERARAH

Pendahuluan

Teori grafik dapat dikelompokkan ke dalam grafik tidak berarah dan grafik berarah. Buku-buku tentang teori grafik dan buku-buku tentang bahan ajar teori grafik lebih banyak memakai dan menyajikan contoh grarik tidak berarah.

Grafik tidak berarah, ditinjau dari sudut matematika, matematika diskrit, dan matriks, mencerminkan bahwa grafik tidak berarah itu tidak berdasar pada matematika, matriks, dan perangkat lunak komputer.

Contoh-contoh grafik tidak berarah sangat sulit diinterpretasikan karena mengandung deskripsi yang sangat tidak jelas. Grafik tidak berarah biasa disajikkan dalam bentuk titik-titik dan garis-garis tanpa mngandung anak panah sehingga arah dalam grafik tidak berarah adalah sangat tidak jelas. Suatu garis antara dua simpul atau dua titik, dalam grafik tidak berarah,  misalkan saja titik A dan titik B dapat mencakup titik A menghubungi titik B akan tetapi titik B tidak menghubungi titik A, atau titik B menghuubungi titik A akan tetapi titik A tidak menghubungi titik B, atau titik A menghubungi titik B dan titik B menghubungi titik A. Suatu grafik dengan 10 titik dan tiap titik mengandung hubungan dengan titik-titik lain, dalam grafik tidak beerarah, akan sangat sulit menginterpretasikan stuktur dari grafik tidak brarah itu karena tiap garis dapat diinterpretasikan ke dalam tiga peluang.

Deskripsi ini mengungkap bahwa gagasan tentang grafik tidak berarah merupakan gagasan yang banyak dipakai dan gagasan ini mengandung beberapa kelemahan dan ketidakjelasan.

Kelemahan dan Ketidakjelasan Grafik Tidak Berarah

Contoh grafik tidak berarah dapat disajikan di bawah ini.

Pendahuluan

Teori grafik dapat dikelompokkan ke dalam grafik tidak berarah dan grafik berarah. Buku-buku tentang teori grafik dan buku-buku tentang bahan ajar teori grafik lebih banyak memakai dan menyajikan contoh grarik tidak berarah.

Grafik tidak berarah, ditinjau dari sudut matematika, matematika diskrit, dan matriks, mencerminkan bahwa grafik tidak berarah itu tidak berdasar pada matematika, matriks, dan perangkat lunak komputer.

Contoh-contoh grafik tidak berarah sangat sulit diinterpretasikan karena mengandung deskripsi yang sangat tidak jelas. Grafik tidak berarah biasa disajikkan dalam bentuk titik-titik dan garis-garis tanpa mngandung anak panah sehingga arah dalam grafik tidak berarah adalah sangat tidak jelas. Suatu garis antara dua simpul atau dua titik, dalam grafik tidak berarah,  misalkan saja titik A dan titik B dapat mencakup titik A menghubungi titik B akan tetapi titik B tidak menghubungi titik A, atau titik B menghuubungi titik A akan tetapi titik A tidak menghubungi titik B, atau titik A menghubungi titik B dan titik B menghubungi titik A. Suatu grafik dengan 10 titik dan tiap titik mengandung hubungan dengan titik-titik lain, dalam grafik tidak beerarah, akan sangat sulit menginterpretasikan stuktur dari grafik tidak brarah itu karena tiap garis dapat diinterpretasikan ke dalam tiga peluang.

Kelemahan dan Ketidakjelasan Grafik Tidak Berarah

Contoh grafik tidak berarah dapat disajikan di bawah ini.

Grafik di atas merupakan grafik tidak berarah. Suatu kelas sedang mengikuti matakuliah teori grafik dan pengajar menyajikan grafik  di atas. Tiga puluh orang mahasiswa diminta untuk menafsirkan hubungan-hubungan antara pasangan-pasangan simpul sebagaimana disajikan dalam grafik di atas. Tiga puluh penafsiran berbeda akan diperoleh karena tiap garis mengandung tiga peluang penafsiran dan tiap garis dalam grafik di atas adalah sangat tidak jelas karena grafik itu merupakan grafik tidak berarah.

Beberapa Kelemahan dari Grafik Tidak Berarah

  1. Pertanyaan mengenai ukuran derajat (degree measures) akan sulit dijaawab karena perangkat lunak komputer tidak dipakai dan matriks tidak disajikan.
  2. Pertanyaan mengenai Outdegree, Indegree, Descriptive Statistics, Network Centralization (Outdegree), dan Network Centralization (Indegree) akan sulit dijawab karena perangkat lunak komputer tidak dipakai dan matriks tidak disajikan.
  3. Pertanyaan tentang jumlah cliques akan sulit dijawab, karena perangkat lunak tidak dipakai dan matriks tidak disajikan.
  4. Pertanyaan tentang jumlah titik atau jumlah simpul yang dicakup dalam tiap clique juga sulit dijawab, karena perangkat lunak tidak dipakai dan matriks tidak disajikan.
  5. Apakah dua grafik tidak berarah di bawah ini adalah isomorfik atau non-isomorfik akan sulit dijawab karena membutuhkan perbandingan matriks dari kedua grafik tidak berarah tersebut? Pertanyaan ini sulit dijawab karena matriks tidak disajikan.

Peranan Matriks dalam Teori Grafik Berarah

Matriks sebagai bagian dari matematika memainkan peranan penting dalam teori grafik berarah juga sebagai bagian dari matematika. Matriks dapat dicipta untuk membuat grafik bersangkutan. Perangkat lunak komputer telah mempermudah pemakaian matriks untuk mencipta grafik berarah. Grafik tidak berarah tidak mungkin dicipta dengan cara memakai matriks karena matriks tersedia hanya untuk mencipta grafik berarah. Contoh grafik tidak berarah di atas dicipta sebagai grafik berarah kemudian grafik tersebut disajikan dengan cara menonaktifkan arah sehingga menjadi grafik tidak berarah.

Matriks, oleh karena itu, memainkan peranan penting dalam teori grafik berarah. Matriks, oleh karena itu, perlu disajikan setiap kali akan menyajikan grafik berarah. Gagasan ini berdasar atas pendapat bahwa tidak terdapat pakar matematika dan pakar matriks yang mampu menyajikan matriks untuk grafik tidak berarah.

Kesalahan sering dialami karena matriks dipakai untuk menyajikan grafik berarah akan tetapi grafik yang disajikan adalah grafik tidak berarah.

Hasmawati (2015) telah menulis Bahan Ajar Teori Grafik. Contoh-contoh grafik sebagian besar merupakan grafik tidak berarah. Matriks juga disajikan akan tetapi sangat sedikit sekali dan tidak semua grafik yang disajikan dalam bahan ajar teori grafik itu didukung dengan matriks.  Bahan Ajar Teori Grafik ini lebih tepat dinamakan Bahan Ajar Grafik Tidak Berarah. Pembahasan dari Hasmawati dapat dipahami karena buku-buku tentang teori grafik banyak menyajikan contoh grafik tidak berarah.

Perangkat Lunak Komputer

Ucinet 6 for Windows dan NetDraw dapat dipakai untuk mencipta matriks dan matriks tersebut kemudian dipakai untuk mencipta grafik sesuai dengan teori grafik berarah.

 Contoh Pemakaian Ucinet dan NetDraw

Hasil Pemakaian Matriks dalam Ucinet

 ABCDEFGHIJ
A0111111111
B1000000000
C1000000000
D1000000000
E1000000000
F1000000000
G1000000000
H1000000000
I1000000000
J1000000000

Hasil Penciptaan Grafik dengan NetDraw

Contoh ini menceerminkan hubungan dua arah antara simpul A dan simpul-simpul lain sedangkan simpul-simpul lain tidak mempunyai hubungan. Grafik berarah ini adalah lebih jelas daripada grafik tidak berarah. Grafik berarah ini jika dinonaktifkan menjadi grafik tidak berarah. Interprretasi grafik tidak berarah adalah sangat sulit karena arah hubungan adalah tidak jelas. Ketidakjelasan selalu terkandung dalam grafik tidak berarah. Grafik tidak berarah akan berbentuk sebagai berikut :

Pembahasan

 Grafik di atas adalah sebagai berikut :

 Pemakaian Ucinet 6 for Windows menghasilkan informasi sebagai berikut :

Simpul A, simpul B, dan simpul D, masing-masing mempunyai Outdegree 4 dan Indegree 4. Simpul C, simpul E, simpul G, dan simpul H, masing-masing mempunyai Outdegree 3 dan Indegree 2. Simpul F mempunyai Outdegree 2, dan Indegree 2. Simpul J mempunyai Outdegree 2 dan Indegree 4. Simpul I mempunyai Outdegree 1 dan Indegree 3. Hal ini berarti bahwa bebearapa simpul mempunyai hubungan samsuk dan hubungan keluar adalah sama, beberapa simpul mempunyai hubungan masuk dan hubungan kekuar berbeda.

Pemakaian perangkat lunak komputer akan mencipta hasil sebagai berikut :

Pemakaian perangkat lunak komputer dapat dimanfaatkan untuk menjawab pertanyaan ini.

Jumlah simpul yang dicakup dalam tiap clique disajikan juga di atas.

Isomorfik atau non isomorfik dariua grafik di bawah ini tergantung pada matriks, degree, Outdegree, Indegree, Descriptive Statistics, dan Network Centralization. 


Matriks kedua grafik  
Matriks pertama adalah sebagai berikut :
 ABCDEFGH
A01001000
B00100100
C00010010
D10000001
E00000100
F00000010
G00000001
H00001000
 ABCDEFGH
A01001000
B00100100
C00010010
D10000001
E00000100
F00000010
G00000001
H00001000
 ABCDEFGH
A01001000
B00100100
C00010010
D10000001
E00000100
F00000010
G00000001
H00001000
 ABCDEFGH
A01001000
B00100100
C00010010
D10000001
E00000100
F00000010
G00000001
H00001000
 ABCDEFGH
A01001000
B00100100
C00010010
D10000001
E00000100
F00000010
G00000001
H00001000

Kedua matriks di atas adalah sama, perbedaan hanya terdapat pada labels saja.

Degree measures matriks pertama adalah sebagai berikut :

Degree measures matriks kedua adalah sebagai berikut :

Degree measures dari kedua matriks adalah sama.n Outdegree, Indegree, Descriptive Statistics, Network Centralizio :n (Outdegree) dan Network Centralization (Indegree) dari matris pertama adalah sebagai berikut:

Degree measures dari kedua matriks adalah sama.n Outdegree, Indegree, Descriptive Statistics, Network Centralizio :n (Outdegree) dan Network Centralization (Indegree) dari matris kedua adalah sebagai berikut :

Degree measures dari kedua matriks adalah sama.n Outdegree, Indegree, Descriptive Statistics, Network Centralizio :n (Outdegree) dan Network Centralization (Indegree) dari matris kedua adalah sebagai berikut :

Degree  measures, Outdegree, Indegree, Decritive Statistics, Network Centralizatioon (Outdegree), dan Network Centralization (Indegree) dari kedua matriks itu adalah sama sehingga kedua gaafik adalah isomorfik.

Rangkuman

Teori grafik lebih tepat dinamakan teori grafik berarah karena grafik tidak berarah tidak berdasar atas matematika, tidak berdasar atas matriks. Para penulis buku teori grafik tidak akan mampu membuktikan matriks dari grafik tidak berarah.

Banyak buku dan buku bann ajar teori grafik telah memakai contoh grafik tidak berarah, contoh yang mengandung beberapa kelemahan dan ketidakjelasan ditinjau dari sudut pendekatan matriks.

Beberapa contoh kelemahan dan ketidakjelasan dari  grafik tidak berarah telah diungkap dan pembahasan mengenai teori grafik berarah akan makin jelas jika tiap contoh menyajikan matriks dari contoh bersangkutan.

Kritik ini dimaksud untuk meletakkan teori grafik berarah pada landasan yang benar sehingga contoh-contoh yang disajikan juga mencerminkan kebenaran.

Permata Depok Regency, 28 February 2022

Daftar Pustaka

Abuja, Ravindra K., Maganti, Thomas L, dan Olin, James B. 1993.  Network Flows, Prentice Hall.

Balakrisnan, R dan K. Ranganathan.2012. A Textbook of Graph Theory. Springer

Bang, Jorsen dan Gregory Gutin Jensen.2007. Digraphs Theory, Algorithms, and Applications. Berlin : Spinger-Verlag.

Balakrishnan, V. K. 1995. Theory and Problems of Combinatorics. MacGraw Hill.

Behzad, M. dan Chartrand, G. 1971, Introduction  to the Theory of Graphs. Allyn and Bacon.

Berge, C. 1958. Theory of Graphs and Its Applications. John Wiley & Sons

Berge, C. 1973. Graphs and Hypergraphs.  North Holland

Bondy, J. A. dan Murty, U.S.R.1976. Graph Theory with Applications North Holland., Stephen P

Borgatti, Stephen Peter. 1989. Regular Equivalence in Graphs, Hypergraphs, and Matrices. University of California, Irevine.

In.

Chartrand, G., dan  Lesnia  nston, Inc.wank, L. 1979. Graph and Digraph.  Wadsworth & Brooks/Cole. And

Chartrand, G. dan Ping. Zhang.2012 A First Cource In Graph Theory. New York : Dover Publications, Inc.

Dooren, Paul Van. 2009. Graph Theory and Appliction. Dublin : UCL.

Hismawati. 2015. Bahan Ajar Teori Grafik. Prodi Matematika Juurusan Matematika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin

Kerlinger, Fred. N.1986. Foundation of Behavioral Reseaech.Holth Rinehart and Winston.ur da

Lipschtz, Seymour dan Marc Lipson. 2007. Discrete Mathematics. Third Edition. New York : McGraw-Hill

Littlejohn, Stephen W. dan  A. Karen Foss. 2011. Theories of Human Communication.waveland Press, Inc.

Monge, Peter R., dan Noshir Contractor.2003. Theories og Communication Networks. Oxford University Press.

Narsing Deo. 1974. Graph Theory with Applications to Engineering & Computer Science. Dover Publication, Inc.

Rosen, Kenneth H. 2007. Discrete Mathematics and Its Applications. Seventh Ediion. New York : McGraw-Hill

Sri Rahayuningsih.2018. Teori Graf dan Penerapannya. Malang : Univrrsitas Wisnuwardhana Press.

Wasserman, Stanley; Katherine Faust. 1998. Social network analysis : methods and applications. Cambridge University Press.

Wilson, Robin J. 1998. Introducton to Graoh Theory. Fourth Edition. Essex, England : Addition Wesley Longman Limited.

Perangkat Lunak Komputer

Borgatti, S.P., Everett, M.G., Freeman, L.C. 2002. Ucinet 6 for Windows : Software for Social Network Analysis. Analytic Tchnology.

Borgatti, S.P. 2002. NetDraw : Networki Visualization.Analytic Tchnology

TEORI MATRIKS DAN TEORI GRAFIK

Oleh :.

Prof. Dr. Abdullah M. Jaubah, S.E., M.M

Pendahuluan

Studi dan penghayatan tentang teori grafik dari buku-buku tentang teori grafik dan buku-buku tentang matematika diskrit banyak menyajikan contoh tentang grafik tidak berarah (undirected graph) dan sangat sedikit menyajikan mantriks.

Teori grafik merupakan bagian dari matematika, bagian dari teori matriks akan tetapi kenyataan mengungkap bahwa contoh-contoh yang disajikan itu sangat banyak merupakan contoh grafik tidak berarah, merupakan contoh grafik tidak berdasar atas matematika atau tidak berdasar atas matriks.

Grafik tidak berarah mengandung kelemahan dan ketidakjelasan karena tiap garis yang mewakili hubungan antara pasangan simpul (edges, links) tidak mengandung arah sehingga hubungan itu sulit diinterpretasikan.

Teori grafik mengandung empat dasar. Grafik jika terdiri dari dua simpul yaitu simpul A dan simpul B maka teori grafik akan mencakup empat peluang yaiitu :

  1. Simpul A tidak menghubungi simpul B dan simpul B tidak menghubungi simpul A. Kedua simpul ini terisolasi.
  2. Simpul A mnghubungi simpul B akan tetapi simpul B tidak menghubungi simpul A. Hubungan satu arah dialami di sini.
  3. Simpul B menghubungi simpul A akan tetapi simpul A tidak menghubungi simpul B. Hubungan satu arah dialami di sini.
  4. Simpul A menghubungi simpul B dan simpul B juga menghubungi simpul A. Hubungan dua arah dialami di sini.

Keempat contoh ini merupakan dasar dari teori grafil. Setiap grafik yang disajikan, berdasar teori matriks, akan dapat ditentukan jika keempat dasar ini dipakai. Grafik tidak berarah tidak akan dapat dicakup dalam keempat dasar tersebut.

Matriks yang dipakai dalam buku-buku tersebut dipakai untuk menyajikan grafik tidak berarah di samping untuk menyajikan grafik berarah, sehingga penyajian grafik tidak berarah jika berdasar atas matrik mencerminkan grafik yang mengandung kesalahan.

Teori matriks di samping menentukan teori grafik, juga menentukan teori jar8igan. Hal ini berarti bahwa hubunan terdapat antara teori matriks, teori grafik dan teori jaringan. Hubungan ini melandasi beberapa disiplin ilmu melalui beberapa landasan teori dari ilmu tersebut karena dasar dari suatu teori adalah hubungan antara objek-objek.

Teori grafik juga menyajikan contoh-contoh grafik tidak berarah dan grafik berarah dengan jumlah simpul dan hubungan sangat terbatas.

Buku-buku tersebut juga belum memanfaatkan ketangguhan dari perangkat lunak komputer untuk mencipta matriks dan matriks yang din dipakaicipta ini kemudian dipakai untuk mencipta grafik atau jaringan.

Contoh Grafik Tidak Berarah

Contoh di bawah ini dicipta melalui pemanfaatan perangkat lunak komputer. Contoh ini terdiri dari 40 simpul dan hubungan antara simpul-simpul. Grafik ini dicipta sebagai grafik berarah kemudian arah dari grafik ini dinonaktifkan untuk membuktikan kesulitan dalam analisis.

Grafik tidak berarah kedua adalah sebagai berikkut :

Grafik tidak berarah ketiga adalah sebagai berikut :

Pertanyaan mengenai isomoorfik atau non-isomorfik antaara ketiga grafik tidak berarah tersebut akan sulit dijawab.i ketiga

Pertanyaan mengenai jumlah cliques dan jumlah simpul dalam tiap clique dari ketiga grafik tersebut juga akan lebih sulit dijaab.

Rangkuman

Teori grafik dan teori jaringn dibangun berdasar atas teori matriks. Hubungan antrara teori matriks, teori grafik, dan teori jaringan memainkan peranan penting karena melanda berbarai ilmu.

Buku-buku teori grafik yang banyak menyajikan contoh grafik ti8dak berarah mengandung beberapa kelemahaan dan ketidakjelasan.

Daftar Pustaka

Abuja, Ravindra K., Maganti, Thomas L, dan Olin, James B. 1993.  Network Flows, Prentice Hall.

Bakakrisnan, R dan K. Ranganathan.2012. A Textbook of Graph Theory. Springer

Balakrishnan, V. K. 1995. Theory and Problems of Combinatorics. MacGraw Hill.

Behzad, M. dan Chartrand, G. 1971, Introduction  to the Theory of Graphs. Allyn and Bacon.

Berge, C. 1958. Theory of Graphs and Its Applications. John Wiley & Sons

Berge, C. 1973. Graphs and Hypergraphs.  North Holland

Bondy, J. A. dan Murty, U.S.R.1976. Graph Theory with Applications North Holland., Stephen P

Borgatti, Stephen Peter. 1989. Regular Equivalence in Graphs, Hypergraphs, and Matrices. University of California, Irevine.

Chartrand, G. 1977. Introduction to Graph Theoy. Dover Publications, Inc.

Chartrand, G., dan  Lesnia  nston, Inc.wank, L. 1979. Graph and Digraph.  Wadsworth & Brooks/Cole. And

Kerlinger, Fred. N.1986. Foundation of Behavioral Reseaech.Holth Rinehart and Winston.

Littlejohn, Stephen W. dan Karen A/ Foss. 2011. Theories of Human Communication.waveland Press, Inc.

Monge, Peter R., dan Noshir Contractor.2003. Theories og Communication Networks. Oxford University Press.

Narsing Deo. 1974. Graph Theory with Applications to Engineering & Computer Science. Dover Publication, Inc.

Wasserman, Stanley; Katherine Faust. 1998. Social network analysis : methods and applications. Cambridge University Press.

Perangkat Lunak Komputer

Borgatti, S.P., Everett, M.G., Freeman, L.C. 2002. Ucinet 6 for Windows : Software for Social Network Analysis. Analytic Tchnology.

Borgatti, S.P. 2002. NetDraw : Networki Visualization.Analytic Tchnology

Dumitru C iubatii. 2005. Graph Magic 2.1.

TEORI MATRIKS DAN TEORI GRAFIK

Oleh :

Prof. Dr. Abdullah  M. Jaubah, S.E., M.M.

Pendahuluan

Teori grafik merupakan  bagian dari matematika atau bagian dari teori matriks. karena matriks dapat dipakai untuk mencipta grafik. Teori matriks dan teori grafik dikembangkan sebelum komputer ditemukan, dicipta, dan dikembangkan. Tingkat perkembangan komputer telah memungkinkan pengembangan perangkat lunak komputer untuk mencipta matriks dan matriks yang telah dicipta itu kemudian dipakai untuk mencipta grafik sesuai dengan teori grafik.

Teori grafik tradisional dapat dikelompokkan  ke dalam teori grafik berarah dan teori grafik tidak berarah. Teori grafik berarah dicipta berdasar atas teori matriks sedangkan teori grafik tidak berarah dicipta tidak memakai teori matriks atau tidak berdasar atas matematika.

Teori grafik modern berdasar atas teori matriks dan perangkat lunak komputer. Salah satu perangkat lunak komputer yang dapat dipakai untuk mencipta matriks adalah Ucinet 6 for Windows dan matriks yang dicipta ini kemudian dipakai dalam Netdraw untuk mencipta grafik sesuai dengan teori grafik berarah.  Pendekatan ini sangat berbeda dengan pendekatan yang dipakai dalam teori grafik tradisional karena contoh-contoh yang terkandung dalam buku-buku teori grafik tradisional lebih banyak menyajikan contoh grafik tidak berarah contoh grafik tidak berdasar atas matematika atau tidak berdasar atas teori matriks.

Grafik  tidak berarah berbeda dengan grafik berarah. Grafik biasa mengandung himpunan simpul (vertex atau node) dan himpunan hubungan (edge, link). Hubungan antara dua simpul, dalam grafik tidak  berarah, diwakili oleh titik atau lingkaran kecil dan garis tanpa anak panah. Grafik berarah diwakili oleh titik dan garis  dengan anak panah. Perbedaan antara garis tanpa anak panah dan garis dengan anak panah memainkan peranan penting karena garis tanpa anak panah mengandung interpretasi yang sangat tidak jelas dan sangat sulit diinterpretasikan karena tiap garis tanpa anak panah dapat ditafsirkan dalam tiga kemungkinan berbeda.

Perangkat lunak komputer

Salah seorang peserta workshop tentang Pajek menjelaskan bahwa Pajek telah diberikan oleh para pengajar dari Manchaster University. Para pelatih Pajek itu adalah para ahli Indonesia yang memberikan kuliah dan melakukan penelitian pada Manchaster University. Peserta juga menjelaskan bahwa Pajek dapat diunduh melalui Internet. Usaha mengunduh Pajek berhasil dilakukan akan tetapi tatkala dilaksanaan maka grafik tidak dapat disajikan. Usaha mengunduh Ucinet 6 for Windows dan NetDraw berhasil dilakukan. Contoh-contoh arsip data dapat dilaksanakan dan grafik dapat disjikan. Langkah ini dilakukan dalam tahun 2012. Usaha mengunduh Pajek dilakukan lagi setelah tiga bulan dan berhasil menyajikan grafik dari pelaksanaan Pajek tersebut. Paket program lain diunduh juga seperti paket program SocNetV, Gephi, Mage dan dapat dilaksanakan. Ucinet 6 for Windows dan Netadraw adalah paket progrm  paling unggul di antara paket program lain.

Buku-buku tentang analisis jaringan sosial diunduh dan dipakai sebagai bahan studi dan penghayatan analisis jaringmean sosial.

Borgatti, S.P., Everett, M.G, dan Freeman, L.C. (2002) telah mencipta dan mengembanngkan Ucnet 6 for Windows : Software for Social Network Analysis

Borgatti, S.P (2002) telah mencipta dan mengembangkan Netdraw : Software for Network Visualization.

Usaha mengumulkan bahan bacaan terus dilakukan dan pada tahun 2014 berhasil mengunduh disertasi yang ditulis oleh Stephen Peter Borgatti (1989) dengan judul Regular Equivalence in Graphs, Hypergraphs, and Matrices, pada California University, Irvine dengan : Committee in charge :

Professor Linton C. Freeman, Chair, Professor John F. Boyd, Professor A. Kimbal Romney, dan Professor Douglas R. White

Studi dan penghayatan atas isi disertasi ini dilakukan dan hasil dari studi dan penghayatan ini telah merangsang untuk mengumpulkan buku-buku tentang teori matriks dan teori grafik. Banyak buku tentang teori matrik dan teori grafik telah dapat dikumpulkan dan dipakai sebagai bahan studi dan penghayatan atas teori matriks dan teori grafik akan tetapi mengalami kekecewaan dan ketidakpuaasan karena banyak contoh memakai grafik tidak berarah dibanding dengan contoh penyajian grafik berarah dan matriks juga jarang sekali disajikan. Contoh-contoh grafik itu kemudian dipakai dengan memanfaatkan Ucinet 6 for Windows dan Netdraw. Hasil yang diperoleh ternyata lebih canggih daripada hasil yang disajikan dalam buku-buku teori grafik tersbut karena dapat memakai 21 jenis warna, bukan hanya empat warna di samping beberapa ketangguhan lain.

Buku-buku tentang teori grafik memakai matriks akan tetapi grafik yang disajikan mengandung kesalahan karena matriks yang dipakai adalah matriks untuk mencipta grafik berarah akan tetapi penyajiannya adalah grafik tidak berarah sehingga secara konseptual grafik yang disajikan mengandung kesalahan.

Contoh Kesalahan Penyajian Grafik

Prio Handoko (2020) dalam tulisannya yang berjdul An Introduction To Graph, menyajikan grafik dan matriks sebagai berikut :

Kesalahan yang dialami di sini adalah matriks yang dipakai merupakan matriks untuk mencipta grafik berarah akan tetapi grafik yang disajikan di sini adalah grafik tidak berarah. Kesalahan serupa ini terdapat dalam banyak buku tentang teori grafik. Kesalahan ini dialami karena perangkat luna komputer tidak dimanfaatkan.

Matriks di atas adalah sebagai beerikut :

 A0B1C2D3E4
A001010
B110101
C201011
D310101
E401110

Grafik, berdasar atas matriks di atas, dapat dicipta. Hasil penciptaan grafik ini disajikan secara otomatis sebagai berikut :

Kesalahan yang dialami di sini adalah matriks yang dipakai merupakan matriks untuk mencipta grafik berarah akan tetapi grafik yang disajikan di sini adalah grafik tidak berarah. Kesalahan serupa ini terdapat dalam banyak buku tentang teori grafik. Kesalahan ini dialami karena perangkat luna komputer tidak dimanfaatkan.

Matriks di atas adalah sebagai beerikut :

 A0B1C2D3E4
A001010
B110101
C201011
D310101
E401110

Grafik, berdasar atas matriks di atas, dapat dicipta. Hasil penciptaan grafik ini disajikan secara otomatis sebagai berikut :

Grafik yang dicipta bukan grafik tidak berarah akan tetapi grafik berarah sehingga penyajian grafik oleh Prio Handoko itu mengandung kesalahan dan kesalahan ini disebar jika Prio Handoko menyajikan kepada para mahasiswa. Penyajian lain adalah sebagai berikut :

Matriks yang dipakai adalah sama akan tetapi grafik yang dicipta adalah berbeda. Grafik yang dicipta ini adalah sebagai berikut :

 A0B1C2D3E4
A001010
B110101
C201001
D300101
E400000

Grafik, berdasar atas matriks di atas dapat dicipta dan hasil penciptaan ini sangat berbeda dengan penyajian grafik yang dilakukan oleh Prio Handoko di atas.

Simpul E4 tidak mempuyai hubungan dengan simpul A0 sebagaimana tercermin dalam matriks bahwa simpul E4 tidak mempunyai hubungan dengan simpul A0 sedangkan grafik dari Prio Handoko mengandung hubungan dua arah antara simpul A0 dan simpul E4. Grafik tersebut juga mengandung kesalahan.

Kesalahan-kesalahan seperti yang dialami di atas juga terdapat dalam buku-buku teori grafik tradisional.

R. B. Bapat dalam bukunya yang berjudul Graphs and Matrices telah menyajikann grafik tidak brarah dan matriks sebagai berikut :

Matriks di atas adalah sebagai berikut :

 e1e2e3e4e5
e101110
e210100
e311011
e410101
e500110

Grafik, berdasar atas matriks di atas, adalah sebagai berikut :

Grafik ini adalah grafik berarah bukan seperti yang disajikan oleh Bapat yaitu grafik tidak berarah sehingga penyajian Bapat mengandung kesalahan.

Chandra Chekuri (2020) dalam memberikan kuliah mengenai Topics in Graph Algorith:ms antara lain menyajikan grafik dan matriks sebagai berikut :

Matriks dapat dicipta sebagai berikut :

 abcde
a01000
b00111
c10001
d00100
e00010

Grafik, berdasar atas matriks di atas, dapat dicipta sebagai berikut :

Chandra Chekuri  tel tah menyajikan matriks dan grafik secara tepat atau tidak mengandung kesalahan.

Dasar dari Teori Grafik

Dasar dari teori grafik terdiri dari empat dasar yaitu dasar dari teori grafik berarah edangkan gafik tidak berarah tidak mengandung dasar matematika dan tidak mengandung dasar teori matriks.

Contoh kesatu simpul A dan simpul B tidak mempunyai hubungan.  Matriks dapat disusun sebagai berikut :

 AB
A00
B00

Grafik dari matriks di atas dapat disajikan sebagai berikut :

Contoh kedua simpul A menghubungi simpul B akan tetapi simpul B tidak menghubungi simpul A.  Matriks dapat disusun sebagai berikut :

 AB
A01
B00

Grafik dari matriks di atas dapat disajikan sebagai berikut :

Contoh ketiga simpul B menghubungi simpul A akan tetapi simpul A tidak menghubungi simpul B.  Matriks dapat disusun sebagai berikut :

 AB
A00
B10

Grafik dari matriks di atas dapat disajikan sebagai berikut :

Contoh keempat simpul A menghubungi simpul A dan simpul B  juga menghubungi simpul A.

Matriks dapat disusun sebagai berikut :

 AB
A01
B10

Grafik dari matriks di atas dapat disajikan sebagai berikut :

Keempat contoh di atas merupakan dasar dari teori grafik berdasar atas teori matriks. Teori lain tidak terdapat termasuk teori yang menggambarkan grafik seperti di bawah ini :

Grafik di atas ini tidak berdasar atas teori matiks dan  juga tidak berdasar atas teori grafik. Contoh grafik seperti di atas banyak terdapat dalam buku-buku teori grafik. Para penulis buku teori grafik tidak akan mampu menjelaskan garis-garis antara pasangan simpul di atas, karena tiap garis mengandung tiga kemungkinan. Ketidakmampuan ini akibat dari matriks yang dipakai untuk mencipta grafik berarah itu tidak disajikan dan gradanfik berarah yang dicipta diubah menjadi grafik tidak berarah.

Usaha untuk mengungkap kerapuhan grafik tidak berarah, di bawah ini akan disajikan grafik tidak berarah dan matriks juga tidak disajikan. Simpul terdiri dari 40 simpul dan hubungan-hubungan. Jumlah simpul sengaja diperbanyak karena contoh-contoh grafik tidak berarah biasanya kurang daripada 40 simpul. Para penulis buku teori grafik tradisional tidak akan mampu menjawab pertanyaan tentang berapakah jummlah cliques dalam grafik di bawah ini dan berapakah jumlah simpul dari tiap clique tersebut?

Gagasan di atas berarti bahwa grafik tidak berarah yang biasa memakai garis tanpa anak panah merupakan teori grafik yang tidak layak dipakai karena mengandung kelemahan dan ketidakjelasan.

Matriks yang disajikan selalu dipakai untuk mencipta grafik berarah bukan untuk mencipta grafik tidak berarah. Pemakaian matriks untuk mencipta grafik berarah jika dipakai  akan tetapi grafik tidak berarah yang dicipta secara manual maka kesalahan dalam penyajian grafik itu dapat dibuktikan sejalan dengan perkembangan teknologi komputer dan perkembangan perangkat lunak kompuer untuk maksud tersebut.

Pembahasan mengenai grafik tidak berarah juga tercermin dalam Buku Ajar Teori Grafik yang disusun oleh Hasmawati, dam beberapa pengajar lain.

Rangkuman

Matematika dan teori Matriks memainkan peranan penting dalam pengembangan teori grafik berarah. Teori grafik tidak berarah merupakan teori grafik tidak berdasar atas matematika dan tidak berdasar atas  teori matriks. Matriks yang disajikan dalam teori grafik akan selalu menci0=pta grafik berarah dan  selalu tidak mencipta grafik tidak berarah. Kesalahan-kesalahan dalam teori grafik tradisional terutama dalam pembahasan mengenai grafik tidak berarah.

Daftar Pustaka

Abuja, Ravindra K., Maganti, Thomas L, dan Olin, James B. 1993.  Network Flows, Prentice Hall.

Bakakrisnan, R dan K. Ranganathan.2012. A Textbook of Graph Theory. Springer

Balakrishnan, V. K. 1995. Theory and Problems of Combinatorics. MacGraw Hill.

Behzad, M. dan Chartrand, G. 1971, Introduction  to the Theory of Graphs. Allyn and Bacon.

Berge, C. 1958. Theory of Graphs and Its Applications. John Wiley & Sons

Berge, C. 1973. Graphs and Hypergraphs.  North Holland

Bondy, J. A. dan Murty, U.S.R.1976. Graph Theory with Applications North Holland., Stephen P

Borgatti, Stephen Peter. 1989. Regular Equivalence in Graphs, Hypergraphs, and Matrices. University of California, Irevine.

Chartrand, G. 1977. Introduction to Graph Theoy. Dover Publications, Inc.

Chartrand, G., dan  Lesnia  nston, Inc.wank, L. 1979. Graph and Digraph.  Wadsworth & Brooks/Cole. And

Kerlinger, Fred. N.1986. Foundation of Behavioral Reseaech.Holth Rinehart and Winston.

Littlejohn, Stephen W. dan Karen A/ Foss. 2011. Theories of Human Communication.waveland Press, Inc.

Monge, Peter R., dan Noshir Contractor.2003. Theories og Communication Networks. Oxford University Press.

Narsing Deo. 1974. Graph Theory with Applications to Engineering & Computer Science. Dover Publication, Inc.

Wasserman, Stanley; Katherine Faust. 1998. Social network analysis : methods and applications. Cambridge University Press.

Perangkat Lunak Komputer

Borgatti, S.P., Everett, M.G., Freeman, L.C. 2002. Ucinet 6 for Windows : Software for Social Network Analysis. Analytic Tchnology.

Borgatti, S.P. 2002. NetDraw : Networki Visualization.Analytic Tchnology

Dumitru C iubatii. 2005. Graph Magic 2.1.

SMART PLS

PEMODELAN PERSAMAAN ulluSTRUKTURAL

Oleh :

Prof. Dr. Abdullah M. Jaubah, S.E., M.M.

Pendahuluan

Studi dan penghayatan atas Pemodelan Persamaan Struktural berdasar atas beberapa konsep yaitu konsep tentang variabel laten endogen (variabel laten dependen atau ETA), konsep variabel laten eksogen (variabel laten indipenden atau KSI), variabel-variabel manifest endogen (variabel-variabel indiator endogen), variabel-variabel indikator dependen, model hubungan rerlektif, dan model hubungan formatif.

Definisi Variabel Laten Endogen

Variabel laten endogen merupakan variabel dependen yang dipakai dalam ekonometri dan psikometri dan kadang-kadang dipakai dalam regresi linier. Variabel-variabel laten endogen  mirip dengan variabel laten dependen. Variabel laten endogen memiliki nilai yang ditentukan oleh variabel-variabel lain dalam sistem dan variabel “lain” ini disebut variabel laten eksogen atau variabel indikator eksogen. Variabel laten endogen didefinisikan sebagai suatu variabel laten endogen dalam model kausal, jika nilainya ditentukan atau dipengaruhi oleh satu  variabel laten independen atau lebih atau satu variabel inikator independen atau lebih.  

Nilai dari variabel laten enogen ditentukan oleh satu variabel laten eksonen atau lebih. Variabel laten endogen dapat dijuga dientukan oeh satu variabel indikator eksogen atau lebih. Model hubungan antar varriabel-variabel inikator eksogen dan variabel laten endogen inamakan model hubungan formafit.Model hubungan formatif antara variabel-variabel indikator eksogen dan variabel laten endogen terdapat dalam LISREL.

Hubungan formatif antara variabel-variabel indikator eksogen dan variabel laten eksogen terdapat antara lain dalam SmartPLS. Hubungan formatif dalam SmartPLS yang ,mencerminkan variabel laten eksogen tergantung pada variabel-variabel indikator eksogen merupakan konsep yang tidak dapat diterima oleh pemikiran sehat, oleh hukum pemikiran. Hal ini ter cermin pula dalam rumus matematika yang biasa dipakai bahwa KSI merupakan fungsi ari variael-variabel indikator eksogen. Suatu variabel jika itentukan oleh, tergantung pada, merupakan fungsi ari variabel-variabel lain, maka variabel tersebut tidak masuk akal jika disebut variabel inependen dan lebih layak isebut variabel dependen. S,martPLS mengandung konsep bahwa variael laten eksogen merupakan variabel yang ditentukan oleh, tergantung pada, fungsi dari variabel-variabel indikator eksogen.

Konsep yang mencerminkan variabel laten endogen ditentukan oleh satu variabel indikator neksogen atau lebih dinamakan model hubungan foormatif. Konsep yang mencerminkan bahwa variabel laten endogen diwakili oleh satu variabel endogen atau lebih dinamakai model reflektif.

Variabel laten endogen adalah variabel yang tidak dapat diobservasi dan tidak dapat diukur secara langsung. Observasi dan pengukuran dilakukan melalui variabel-variabel indikator manifest) endogen yang mewakili variabel laten endogen tersebut.el

Variabel laten eksogen adalah variabel laten independen yang tidak dapat diobservasi dan tidak dapat diukur secara langsung. Pengukuran dilakukan melalui variabel-variabel indikator eksogen.

Rincian variabel laten endogen ke dalam variabel-variabel indikator endogen yang dapat diobservasi dan dapat diukur secara langsung dan rincian variabel laten eksogen dlangsung merupakan dasar utama dari pemodelan persamaan struktural.

Langkah Melakukan Klasifikasi Variabel-variabel di dalam Suatu Sostem

Penentuan variael-variabel laten eksogen, variabel-variabel inikator eksogen, variabel-variabel laten endogen, variabel=variabel indikator endogen, model hubungan formatif, dan model hubungan refeltif dalam berbagai penelitian yang  telah dilakukan  sering mengungkan perbedaan-perbedaan tertentu sehingga penentuan tersebut merupakan tantangan.

Perilaku dari variabel-variael laten eksogen, variabel-variabel indikator eksogen, variabel-variabel laten endogen, dan variabel=variabel indikator endogen, oleh karena itu, perlu dijelaskan. Model-model matematika biasa disajikan dalam bentuk persmaab-perbamaan dan persamaan-persamaan ini dapat dipakai untuk menjelaskan variabel-variabel bersangkutan.

Variabel Eksogen

Variabel eksogen adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam sistem. Istilah Exogenous berasal dari bahasa Yunani Exo, yang berarti “di luar” dan gignomai, yang berarti “menghasilkan”. Variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh faktor lain dalam sistem, yaitu diplengaruhi oleh variabel laten eksogen atau dipengaruhi oleh variabel-variabel indikator eksogen. Istilah “variabel eksogen” hampir secara eksklusif dipakkai dalam ekonometrik dan dipakai dalam regresi linier untuk mendeskripsikan variabel independen dalam model. Variabel eksogen adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam model (meskipun dapat dipengaruhi oleh faktor di luar model regresi linier yang sedang diteliti. Variabel Laten Eksogen. Variabel laten independen adalah variabel laten eksogen sehingga, secara matematis, tidak dipengaruhi, tidak ditentukan, atau bukan merupakan fungsi dari variabel lain. SmartPLS asumsi yang sangat bertentangan dengan matematika karena variabel laten eksogen atau independen dapat dipengaruh oleh variabel-variabel indikator eksogen dalam model formatif.

  https://1.bp.blogspot.com/-Mdw0BKbv1L4/XxY_rHpjk9I/AAAAAAAAAlY/xBxRXIlW850E80m0f4Dzx90SmXFkBvVGgCLcBGAsYHQ/s1600/KW1.png

I Made Nyoman Mindra Jaya dan I Made Sumertajaya telah menyajikan rumus untuk moel hubungan formatif sebagai berikut :

Rumus ini dipakai dalam hubungannya dengan variabel KSI seperti di atas. SmartPLS karena dapat dipakai untuk melaksanakan rumus di atas berrarti pula  bahwa SmartPLS mengandung unsur yang bertentangan dengan hukum matemtika dan hukum pemikiran. Model formatif daam Lisrel, tidak mungkin memakai variabel laten eksogen (KSI) sebagai variabel independen, LISREL memakai variabel laten endogen dan variabel  variabel-variabel indikator eksogen bukan memakai variabel laten eksogen dan variabel-variabel indikator eksogen seperti tercermin dalam diagram jalur yang disajikan oleh Made Nyoman Mindra Jaya dan I Made Sumertajaya.

Rangkuman

Konsep-konsep pokok dalam pemodelan persamaan struktural mencakup konsep variabel laten eksogen, variabel-variabel indikator eksogen, variabel laten endogen, dan variabel indikator endogen, beberapa jenis kesalahan, model hubungan formatif, dan model hubungan reflektif.

Model hubungan formatif dala LISREL sesuai dengan hukum matematika sedangkan model hubungan formatif dalam SmartPLS bertentangan dengan hukum matematika dan hukum pemikiran karena variabel laten eksogen dapat mencerminkan fungsi dari variabel-variabel indikator eksogen.

Permata Depok Regency 30 Maret 2021

Teologi Setan di balik Marxisme Kultural

TEOLOGI SETAN DI BELAKANG MARXISME KULTURAL DAN TEORI KRITIS

Terjemahhan Oleh :

Prof. Dr. Abdullah M. Jaubah, S.E., M.M.

Pendahuluan

Pemikiran David Ricardo mempengaruhi pemikiran Karl Marx. Karl Marx mencipta Marxisme yang mencerminkan substruktur mempengaruhi superstruktur, ekonomi mempengaruhi budaya dan agama. Perubahan substruktur akan mengubah superstruktur. Perubahan substruktur dapatdilakukan jika kaum proreltas yang ditindas oleh kaum kapitalis melakukan revolusi. Perang Dunia I dan Perang Dunia II dialami akan tetapi kaup proletar tidak melakukan revolusi. Hal ini diaggap sebagai kegagalan atau kesalahan dari teori Karl Marx oleh kelompok yang dinamakan Aliran Frankfurt.  Kelompok ini masih memakai gagasan dari Karl Marx dan Fraud. Georg Lukacs,  Max Horkheimer, Theodore Adorno, Erich Fromm, Herbert Marcuse, Benjamin, dan sebagainya. Nama Franz Joseph Molitor juga muncul walau bukan anggota dari Aliran Frankfurt. Franz Joseph Molitor dikenal sebagai satanist dan  alchemist yang sangat berminat dalam Kabbalah. Para pakar tersebut merupakan kelompok tertentu dari keturunan Yahudi. Hal ini berarti bahwa Marxisme Kultural dikembangkan oleh kelompok tertentu dari teturunan Yahudi yang dianggap menganut teologi setan (The Satanic Theology Behind Cultural Marxism).

Rocky Gerung (1991) telah menulis skripsi dengan judul Marxisme Kultural dan Teori Kritis Jurgen Habermas. Rocky Gerung melancarkan beberapa kritik. Kritik-kritik dari Rocky Gerung, menurut pendapat penulis, hanya merupakan imitasi dari Marxisme Kultural dan Teori Kritis. Orang-orang yang tidak mengetahui kritik Rocky Gerung akan terkejut akan tetapi penulis sendiri tidak terkejut karena kritik-kritiknya senada dengan kritik yang dilancarkan oleh kelompok tertentu dari orang-orang Yahudi melalui teori kritis untuk menghancurkan budaya dan agama Kristen di Eropa dan Amerika Serikat dan mengganti dengan  Marxisme Kultural. Penggantian budaya dan Agama Kristen di Eropa dan Amerika Serikat dengan Marxisme Kultural berarti pula penggantian kapitalisme dengan Marxisme.

Rocky Gerung, jika menganut Marxisme Kultural dan Teori Kritik, berdasar atas gagasan mengenai The Satanic Theology Behind Cultural Marxism, berarti juga menerapkan teologi setan tersebut. Skripsi tersebut mencerminkan bahwa Rocky Gerung mungkin mengagumi dan menerapkan gagasan-gagasan yang terkandung dalam Marxisme Kurtural dan Teori Kritis dalam melancarkan kritik seperti kritik yang dilancarkan oleh Karl Marx dan Freud. Georg Lukacs,  Max Horkheimer, Theodore Adorno, Erich Fromm, Herbert Marcuse, Benjamin, dan sebagainya.

The Satanic Theology Behind Cultural Marxism

Tulisan mengenai Teologi Setan di Balik Marxisme Kultural perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas dan naskah asil disajikan pula di sini. Hal ini berarti bahwa pembahasan mengenai Teologi Setan di Balik Marxisme Kultural bukan pendapat penulis. Penyajian ini dianggap perlu dilakukan karena pembahasan mengenai Teori Kritis mulai berkembang di Indonesia. Hasil terjemahan ini adalah sebagai berikut :

Orang-orang Yahudi Kabbalistik percaya bahwa Allah dihancurkan oleh tindakan penciptaan, dan bahwa sifat-sifat-Nya terletak sebagai “percikan api suci” dalam Pengakuan Iman yang harus diambil agar Dia dipulihkan menjadi satu (dikenal sebagai tikkun). Kabbalah, karena itu, mengatakan bahwa Mesias tidak akan pernah kembali dan dengan demikian Manusia tidak akan pernah dibebaskan sampai Tuhan dipulihkan menjadi Keesaan. Cara untuk melakukan ini, menurut kaum Kabbalis, adalah memulihkan ketertiban pada kekudusan dan meditasi dari tindakan yang melibatkan Dewa Api.

Seorang Kabbalis dan okultis bernama Sabbatai Zevi, pada tahun 1666, menyatakan dirinya sebagai Mesias Yahudi. Sabbatai Zevi, setelah menjadi mesias, menoleh ke Taurat untuk menyatakan bahwa semua dosa sekarang dianggap “suci” dan bahwa satu-satunya cara untuk “memperbaiki” Allah adalah dengan melakukan tindakan kebobrokan. Kekaisaran Ottoman, setelah banyak pengikut yang hilang,  memaksanya untuk masuk Islam, namun banyak lagi yang masih mengikutinya. Jacob Frank ,  lebih dari 100 tahun kemudian, menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Sabbatai Zevi dan ide-idenya ke tingkat yang bahkan lebih ekstrem. Umat manusia, agar Tuhan sepenuhnya diperbaiki dan datang ke Era Mesianik,  harus menghancurkan semua nilai moral tradisional dan melampaui kebaikan dan kejahatan. Kaum Frankis, demikian sebutan mereka, dapat membayangkan setiap hal mengerikan di mana orang bertunangan: sihir hitam, bertukar istri, pesta pora seks, homoseksualitas, inses, pedofilia, dan suatu bentuk proto-feminisme dan proto-komunisme. Setiap tindakan menjijikkan ini dianggap sebagai “tikkun suci” (pemulihan) Tuhan jika dilakukan dengan niat suci. Mereka berlimpah Apokaliptik Yang Menghina Penciptaan Dunia, Berusaha Membawanya Sampai Akhir Dan Membawa Utopia Mesianik.

Sabat Bunda Sabat dan Frank untuk Memulai Abad ke-19. Kubu Frank yang aktif masih terdapat di Frankfurt, Jerman saat itu. Frankis ini diketahui terkait dengan Freemasonic Lodges yang ada di sekitar kota. Salah satu freemason semacam itu adalah seorang pria bernama Franz Joseph Molitor. Dia adalah seorang satanis dan alkemis terkenal yang sangat tertarik pada Kabbalah, bahkan melangkah lebih jauh untuk mensintesis Kabbalah dengan bentuk “Kristen” yang mesum. Ideologi Sabbatean-Frankist mengambil ini adalah apa yang memimpin. Ia, untuk mempromosikan pandangannya yang sakit dan memutarbalikkan, telah menulis empat jilid buku yang mempromosikan pemahaman durhaka tentang “Yudaisme” dari perspektif Kabbalis dan Sabbatean.

Dua sarjana muda Yahudi dari Berlin awal abad ke-20: Gershom Scholem, yang kemudian menjadi seorang teolog Yahudi yang terkenal, dan sahabatnya, kritikus sastra Walter Benjamin. Scholem dan Benyamin adalah kaum Kababalis dan okultis yang terobsesi dengan Sabbateanisme antinomian dan semua kejahatannya. Benjamin bahkan akan melangkah lebih jauh untuk mengklaim “kedekatan” dengan Jacob Frank, yang mengejutkan mengingat bagaimana Benjamin juga dipengaruhi oleh tulisan setan Friedrich Nietzsche. Dia dan Scholem juga sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan esoteris Yahudi terkenal lainnya: Franz Kafka, Franz Rosenzweig, Martin Buber (yang nantinya akan menjadi teman baik dan secara terbuka mengaku memegang pandangan Sabbatean), Leo Strauss (Bloch menulis sebuah buku berjudul The Spirit of Utopia di mana ia mengaitkan revolusi komunis dengan mesianisme Yahudi, dan beberapa tahun kemudian, Benjamin akan menjadi seorang Marxis.

Filsuf Marxis Terkemuka, di Uni Soviet dan Pertemuan dengan Georg Lukacs,  Melihat Budaya Barat (Terutama dalam Kekristenan) Lukacs adalah salah satu orang kunci di balik penciptaan Aliran Frankfurt. Benjamin, dalam waktu singkat, akan bergabung dengan Aliran Frankfurt dan menjadi salah satu intelektual kunci di belakang Theodor Adorno (teman dekatnya) dan Max Horkheimer (yang menjadi direktur “Aliran”, mengalihkan fokusnya dari ekonomi ke budaya.

Benjamin dapat dibilang Aliran Frankfurt terburuk. Marxisme Kultural sering diabaikan, tetapi ini adalah kesalahan. Benjamin memuat tulisannya tentang konsep dan terminologi sastra dan budaya yang penuh dengan kabbalah dan okultisme. Benjamin, pada bagian awal, The Task of the Translator, membuat referensi yang jelas ke kata “Shattering of the Vessels,” yang menyatakan bahwa semua bahasa modern tidak lengkap dan tidak pernah dapat memberikan deskripsi masyarakat yang sepenuhnya akurat. dan menjadi bahasa “utuh.” Hal ini penting untuk dicatat, karena ide-ide yang diekspresikan dalam teks ini akan menjadi tulang punggung dekonstruksionisme, teknik yang digunakan oleh kaum Marxis Kultural untuk membuktikan bahwa kata-kata dapat berarti apa saja (semua bahasa yang ada tidak lengkap) dan semua hal adalah konstruksi sosial. Penulis anarkis setan dan pedofil Peter Lamborn Wilson berpendapat bahwa Benjamin mencari “penyembahan berhala” Yudaisme, yang merupakan tujuan dari kaum Sabat dan Frankis. Dia meninggal muda ketika menjalankan tangannya sendiri dari penganiayaan Nazi (biarlah dikatakan, bunuh diri dilarang keras dalam Yudaisme otentik), tetapi tepat sebelum itu dia menulis esai singkat yang menggabungkan Marxis dengan “materialisme materialistis”

Benjamin, sejalan dengan narasi kabbalis semi-Gnostik tentang Allah yang hancur yang menyebabkan penderitaan-Nya bagi umat manusia, mengklaim bahwa semua sejarah manusia adalah sejarah penderitaan dan bahwa semua budaya manusia adalah biadab. Satu-satunya cara untuk memperoleh pembebasan umat manusia, menurut Benjamin, adalah mengidentifikasikan diri dengan “perjuangan kelas” Marxis seperti yang telah terjadi sepanjang sejarah dan mengesampingkan gagasan kemajuan yang telah “membutakan” kelas pekerja untuk tidak berperang. Mereka yang dicap sebagai kelas “tertindas” perlu mengingat rasa sakit dan penderitaan mereka karena hati mereka akan penuh dengan kebencian, sehingga memberi mereka dorongan untuk melampaui kebaikan dan kejahatan, bangkit dan menghancurkan kapitalisme dan Peradaban Barat. Dia mengatakan: “Kebencian dan semangat pengorbanan … dipelihara oleh citra leluhur yang diperbudak daripada cucu yang terbebaskan.” Tindakan spontan ini akan membawa revolusi komunis, yang akan menghasilkan penebusan kemanusiaan secara massal. Hal ini persis analog dengan gagasan Sabbatean bahwa Zaman Mesianik hanya akan tiba begitu semua orang jahat. Langkah selanjutnya dalam “penebusan” ini, “Manusia akan menjadi” utuh “karena tindakan Mesias, sesuatu yang disebutkan dalam Zohar (teks kabbalis utama). Hal ini berarti Manusia tidak akan lagi dibagi berdasarkan kelas, jenis kelamin, ras, bangsa atau penanda identitas lainnya. Fakta ini harusnya sejajar dengan agenda Marxis Kultural untuk mengurangi perbedaan antara ras, bangsa, dan jenis kelamin, di antara hal-hal lain. Penting juga untuk dicatat bahwa teks ini ditulis tepat setelah Stalin membuat perjanjian dengan Hitler, dan Marxisme Soviet tampaknya telah kehilangan kualitas penebusannya, dan menggabungkan Marxisme dengan mistisisme Yahudi seharusnya mengembalikan sifat dugaan penebusan komunisme.

Alasan untuk percaya terdapat juga  bahwa buku Dialektika Pencerahan oleh Horkheimer dan Adorno menggunakan banyak tema yang sama dengan esai Benjamin: sejarah manusia adalah sejarah penderitaan dan bahwa semua upaya untuk membebaskan umat manusia hanya memperbudak umat manusia bahkan lebih banyak lagi.  Mereka, tentu saja, meninggalkan Mesianisme pada akhirnya dan nuansa keagamaan, karena mereka kritis terhadap semua agama. Mereka mengatakan alam harus “dibebaskan” dari dominasi umat manusia sebelum konsep alasan yang tidak menghancurkan diri dapat dibentuk.

Hal ini bukan saja merupakan pendahulu bagi gerakan ekologi anti-manusia yang kita lihat sekarang, tetapi juga bergantung pada konsep kabbalis yang sama dengan melihat ke belakang. Horkheimer dan Adorno, dalam buku itu, memuliakan pesta pora seksual orang-orang primitif, mengklaim bahwa etika Kristen terhadap seksualitas telah “menenangkan” seksualitas manusia yang “asli”. Pernyataan ini mengejutkan, mengingat bagaimana orang Sabbate terus-menerus terlibat dalam apa yang disebut pesta pora seks “suci”. Adorno, penting juga untuk dicatat, telah mengulangi pandangan semi-Gnostik tentang dunia dalam Dialektika Negatif. Faktanya, Scholem menyebut buku Adorno sebagai “pembelaan tidak bersalah terhadap metafisika” dan bahkan mencurigai Adorno memiliki ikatan dengan bid’ah Sabbatean sendiri.

Erich Fromm adalah tokoh lain dari Aliran Frankfurt yang sangat dipengaruhi oleh para esoteris Yahudi yang sama dan sering menjadi tamu ke Frankfurter Lehrhaus yang didirikan oleh Rosenzweig dan Buber. Fromm banyak menulis tentang teori “keterasingan” Marx yang tampaknya memiliki nuansa Gnostik yang berat. Fromm, dalam bukunya The Art of Loving, sering membuat klaim bahwa kapitalisme menyebabkan orang tidak saling mencintai, dan berpendapat bahwa hubungan manusia akan lebih kuat di bawah sosialisme (!). Dia juga mengklaim bahwa semua perbedaan seksual antara pria dan wanita dibangun secara sosial dan menolak gender sebagai sesuatu yang bawaan.

Karya-karyanya tentu saja merupakan pendahulu feminisme yang kita lihat saat ini. Herbert Marcuse, sejauh yang paling terkenal dari Aliran Frankfurt, prihatin tidak ada pertanyaan, dia juga dipengaruhi oleh ideologi ini. Eros dan Peradaban mengambil pandangan Freud tentang seksualitas – yang benar-benar Sabbatean, karena Freud mengaku memegang Kabbalah dalam hal yang tinggi – ke tingkat yang bahkan lebih ekstrem. Banyak dari apa yang dipromosikan Marcuse dalam buku mengerikan itu secara langsung mirip untuk hal-hal yang dipraktikkan dan dipromosikan oleh para Sabat dan Frankis. Dia, juga, mengklaim kapitalisme dan moral Kristen mendistorsi seksualitas “asli” dan secara terbuka menyerukan masyarakat di mana tindakan seksual yang paling berdosa dianggap normal. Dia juga mengatakan seksualitas sesat dapat membantu meruntuhkan kapitalisme dan agama Kristen. Bukunya sangat penting, karena memainkan peran besar dalam perkembangan Kiri Baru Amerika, yang memberi kami aborsi atas permintaan, feminisme, dan homoseksualitas yang dinormalisasi. Buku Marcuse yang lain, One Dimensional Man, sangat dipengaruhi oleh pemikiran Martin Heidegger, filsuf Nazi kafir lainnya. Marxisme Kultural jelas  sangat dipengaruhi oleh bentuk iblis mistisisme Yahudi. Sabbateanisme berupaya membawa Era Mesianik dengan menafsirkan Hukum Yahudi secara terbalik sehingga semua dosa menjadi kudus. Teori Kritis, juga, berupaya membawa komunisme dengan menafsirkan budaya Barat dan nilai-nilainya secara terbalik, sehingga hal-hal yang oleh budaya Barat dianggap bermoral dan baik (seperti moralitas agama, keluarga, dan pasar bebas) menjadi jahat dan sebaliknya. Pengaruh Sabbatean-Frankist adalah alasan utama mengapa Teori Kritis mendorong aborsi, homoseksualitas, kehancuran keluarga, feminisme, seni yang merosot, dan komunisme total. Adorno, oleh karena itu, mengutuk apa yang disebut “sifat fasis” dari “kepribadian otoriter” orang yang berpegang pada nilai-nilai Barat tradisional, kontras dengan “kepribadian liberal” yang tidak mampu memenuhi standar nilai-nilai tradisional Barat. Hal itu juga mengapa Benjamin mempromosikan seni dan sastra yang menjijikkan sambil merayakan kematian seni tradisional Barat. Konsep Marcuse tentang “toleransi represif” juga mengikuti model ini, karena mempromosikan sensor bagi mereka yang ingin mempromosikan moralitas agama dan nilai-nilai tradisional tetapi memegang pidato kaum Kiri dengan sangat hormat. Teori Kritis memang merupakan bentuk ilmu hitam. Tema yang berulang dalam semua ini adalah tikkun, atau pemulihan segalanya menjadi satu kesatuan. Zohar menyatakan bahwa Mesias Yahudi menghancurkan perbedaan antara jenis kelamin, bangsa, agama dan yang lainnya. Hal ini merupakan  komunisme dalam bentuknya yang paling murni.

Rangkuman

Marxisme Kultural danTeori Kritis termasuk teori kritis dari Jurgen Habermas dikembangkan berasar atas teologi setan yang menghalalkan larangan-larangan dalam agama dan menolak budaya Barat di Eropa dan di Amerika Serikat. Tulisan ini disusun dengan maksud bahwa para penulis Teori Kritis dan Marxisme Kultural di Indonesia seyogyanya melakukan studi mengenai teologi setan untuk menilai keenaran dari Marxisme Kultural dan Teori Kritis. Beberapa penulis tentang teori kritis telah memuji teori tersebut dan mereka mungkin tanpa mengetahui lteologi setaan yang terkandung di belakang Marxisme Kultural dan Teori  Kritis dari Aliran Frankfurt yang telah didominasi orang-orang Yahudi.

Langkah untuk memahami perilaku Rocky Gerung dapat dilakukan melalui studi dan penghayatan skripsinya yang berjudul Marxisme Kultural dan Teori Kritis Jurgen Habermas. Habermas sendiri dalam bukunya yang berjudul The Theory of Communicative Action yang terdiri dari  dua volume, telah memakai variabel-variabel laten tanpa rincian ke dalam dimensi-dimensi dan tanpa rincian tiap dimensi ke dalam indikator-indikator. Ruang Publik (Public Sphere) jika terdiri dari 30 aktor yang melakukan tindakan komunikatif dideskripsikan dalam diagram jaringan komunikasi, akan menunjukkan struktur sosial atau hubungan sosial yang sangat kompleks dan sulit diinterpretasikan jika tanpa bantuan perangkat lunak komputer. Setiap tindakan komunikasi dari jumlah aktor seperti itu dapat mencerminkan bahwa aktor tertentu mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang lebih besar daripada para aktor lain jika perangkat lunak komputer yang dinamakan Pajek atau Gephi atau SocNetV dipakai untuk melakukan analisis. Hal ini berarti bahwa tindakan komunikatif seperti yang dibahas oleh Habermas tidak mungkin meniadakan pengaruh dan kekuasaan tersebut.

Daftar Pustaka yang disajikan di bawah ini merupakan pembahasan-pembahasan mengenai Teologi Setan di belakang Marxisme Kulturan dan Teori Kritis.

THE SATANIC THEOLOGY BEHIND CULTURAL MARXISM

 

Kabbalistic Jews believe that God was shattered by the act of Creation, and that His attributes lay as “holy sparks” imbedded in Creation which must be picked up in order for Him to be restored to oneness (known as the act of tikkun). The kabbalist therefore believes that the Jewsish Messiah will never arrive and thus Mankind will never be liberated until God is restored to oneness. The way to do this, according to the kabbalists, is to engage in acts of holiness and meditation in order to retrieve the sparks of God.

In the year 1666, a kabbalist and occultist named Sabbatai Zevi declared himself the Jewish Messiah. Upon his messiahship, he turned the Torah around by declaring that all sins were now considered “holy” and that the only way to “repair” God was to engage in acts of depravity. He lost several followers after the Sultan of the Ottoman Empire forced him to convert to Islam, however, several Jews still followed him. 100 years later, Jacob Frank declared himself to be the reincarnation of Sabbatai Zevi and took those ideas to an even more extreme level. In order for God to be fully repaired and for the Messianic Era to arrive, mankind must destroy all of its traditional moral values and go beyond good and evil. The Frankists, as they were called, engaged in every horrible thing you could imagine: black magic, wife-swapping, sex orgies, homosexuality, incest, pedophilia, and promoted a form of proto-feminism and proto-communism. Every one of these disgusting acts was considered to be a “holy tikkun” (restoration) of God if done with holy intent. They were entirely

apocalyptic who despised the world of creation, seeking to bring about its early end and to bring forth a Messianic utopia.

The Sabbatean and Frankist heresies seemed to disappear by the start of the 19th century. However, there was still an active Frankist stronghold in Frankfurt, Germany during that time. These Frankists were known to be affiliated with the Freemasonic lodges that existed around the city. One such Freemason was a man by the name of Franz Joseph Molitor. He was a known satanist and alchemist who took a strong interest in the Kabbalah, even going so far as to synthesize Kabbalah with a perverted form of “Christianity.” This is what lead him to picking up Sabbatean-Frankist ideology. In order to promote his sick and twisted views, he wrote a four-volume set of books promoting a bastardized understanding of “Judaism” written from a kabbalist and Sabbatean perspective.

These books of Molitor’s would later be picked up in the early 20th century by two young Jewish scholars from Berlin: Gershom Scholem, who later became a famed Jewish theologian, and his best friend, literature critic Walter Benjamin. Scholem and Benjamin were kabbalists and occultists who became obsessed with the antinomian Sabbateanism and all of its evil. Benjamin would even go so far as to claim a “close affinity” with Jacob Frank, which isn’t surprising given how Benjamin was also very influenced by the satanic writings of Friedrich Nietzsche. He and Scholem were also heavily influenced by the writings of other known Jewish esotericists of the time: Franz Kafka, Franz Rosenzweig, Martin Buber (who would later become good friends with both of them and openly admitted to holding Sabbatean views), Leo Strauss (who would become the NeoCon go and Ernst Bloch. Bloch wrote a book called Spirit of Utopia in which he linked communist revolution to Jewish Messianism. In a few years down the line, Benjamin would become a Marxist after living

in the Soviet Union and meeting with Georg Lukacs, the notable Marxist philosopher who saw Western culture (Christianity in particular) as being the main obstacle to communist revolution. Lukacs was one of the key people behind the creation of the Frankfurt School. In no time at all, Benjamin would join the Frankfurt School, and become one of the key intellectuals behind Critical Theory alongside Theodor Adorno (his close friend) and Max Horkheimer (who became the “School’s” director, shifting its focus from economics to culture).

Benjamin was arguably the worst of the Frankfurt School. In every conversation about Cultural Marxism he is often overlooked, but this is a mistake. Benjamin loaded his writings on literature and culture full of concepts and terminology from the kabbalah and the occult. In an early piece, The Task of the Translator, he, while making a clear reference to the kabbalistic “shattering of the vessels,” claims that all modern languages are incomplete and can never give a completely accurate description of anything on the surface until society and language become “whole.” It is important to note, because the ideas expressed in this very text would go on to become the backbone of deconstructionism, the very technique used by cultural Marxists to prove that words can mean anything (given that all existing languages are incomplete) and all things are social constructs. The satanic anarchist writer and pedophile Peter Lamborn Wilson contends that Benjamin sought to “re-paganize” Judaism, which was exactly the goal of the Sabbateans and Frankists. He died young by his own hands while running from Nazi persecution (let it be said, suicide is strictly forbidden in authentic Judaism), but right before doing so he wrote a short essay which combined Marxist “historical materialism” with kabbalist mysticism.

http://www.marxists.org/reference/archive/benjamin/1940/history.htm

Keeping with the semi-Gnostic kabbalist narrative of the broken God that inflicts His suffering onto Mankind, Benjamin claimed all of human history was a history of suffering and that all of human culture was barbaric. To him, the only way to obtain Mankind’s liberation is to identify with the Marxist “class struggle” as it has occurred throughout history and to cast aside the notion of progress which has “blinded” the working classes to not fight. To him, those who are labeled as “oppressed” classes need to remember their pain and suffering sothat their hearts will be full of hate, thus giving them the drive to go beyond good and evil, rise up and destroy capitalism and Western Civilization. He says: “Hatred and [the] spirit of sacrifice…are nourished by the image of enslaved ancestors rather than that of liberated grandchildren.” This spontaneous act will bring about communist revolution, which will bring about a mass redemption of humanity. This is exactly analogous to the Sabbatean idea that the Messianic Era will only arrive once everyone is evil. Furthermore, in this “redemption,” Mankind will become “whole” due to the act of the Messiah, something which is mentioned in the Zohar (the primary kabbalist text). This means Mankind will no longer be divided according to class, gender, race, nation or any other identity marker. This very fact should have parallels with the Cultural Marxist agenda of diminishing the distinctions between races, nations and genders, among other things. It is also important to note that this text was written right after Stalin made a pact with Hitler, and Soviet Marxism seemed to have lost its redemptive qualities, and combining Marxism with Jewish mysticism was supposed to bring back the alleged redemptive nature of communism.

There is also reason to believe that the book Dialectic of Enlightenment by Horkheimer and Adorno uses many of the same themes as Benjamin’s essay: human history is a history of suffering and that all attempts of liberating Mankind have only enslaved Mankind even more. Of course, they leave out the Messianism at the end and the religious overtones, as they were critical of all religion. Instead, they say nature must be “liberated” from Mankind’s domination before a concept of reason that isn’t self-destructing can be formed.

However, not only is this a precursor to the anti-human ecology movement we see today, it also relies on the same kabbalist concept of looking backwards. In the book, Horkheimer and Adorno glorified the sexual orgies of primitive peoples, claiming that Christian ethics towards sexuality have “pacified” the “authentic” sexualities of people. This is striking, considering how Sabbateans were constantly engaging in so-called “holy” sex orgies. It’s also important to note that Adorno repeated his semi-Gnostic view of the world in Negative Dialectics. In fact, Scholem referred to Adorno’s book as an “innocent defense of metaphysics” and even suspected Adorno of holding an affinity with the Sabbatean heresy himself.

Erich Fromm is another figure from the Frankfurt School who was heavily influenced by those same Jewish esotericists and was a frequent guest to the Frankfurter Lehrhaus set up by Rosenzweig and Buber. Fromm wrote heavily about Marx’s theory of “alienation” which seems to possess heavy Gnostic overtones. In his book The Art of Loving, he frequently made the claim that capitalism causes people not to love each other, and argued that human relationships would be stronger under socialism(!). He also claimed that all sexual differences between men and women were socially constructed and rejected gender as something innate.

His works were certainly a precursor to the feminism we see today. As far as the most notorious of the Frankfurt School, Herbert Marcuse, is concerned, there is no question he, too, was influenced by this ideology. Eros and Civilization takes Freud’s views on sexuality – which were

absolutely Sabbatean, as Freud admitted to holding the Kabbalah in high regard – to an even more extreme level. In fact, much of what Marcuse promotes in that awful book is directly akin to the things the Sabbateans and Frankists practiced and promoted. He, too, claimed capitalism and Christian morals distorted “authentic” sexuality and openly called for a society where the most sinful of sexual acts are considered normal. He also said perverted sexualities can help bring down capitalism and Christianity. His book is highly significant, because it played a huge role in the development of the American New Left, which gave us abortion on demand, feminism and normalized homosexuality. Marcuse’s other book, One Dimensional Man, was heavily influenced by the thought of Martin Heidegger, another pagan Nazi philosopher. It’s clear that Cultural Marxism was heavily influenced by a demonic form of Jewish mysticism. Sabbateanism seeks to bring the Messianic Era by interpreting Jewish Law in reverse so that all sins become holy. Critical Theory, likewise, seeks to bring communism by interpreting Western culture and its values in reverse, so that the things Western culture considers moral and good (such as religious morality, the family, and free markets) become evil and vice-versa. The Sabbatean-Frankist influence is the main reason why Critical Theory pushes for abortion, homosexuality, the breakdown of the family, feminism, degenerate art, and total communism. It is why Adorno condemned the so-called “fascistic nature” of the “authoritarian personality” as one who holds to traditional Western values, contrasting it with the “liberal personality” who was unable to live up to the standards of traditional Western values. It is also why Benjamin promoted disgusting art and literature all while celebrating the death of traditional Western art. Marcuse’s concept of “repressive tolerance” also follows this model, as it promotes the censorship of those who wish to promote religious morality and traditional values but holds the speech of Leftists in the highest regard. Critical Theory is indeed a form of black magic. The reoccurring theme in all of this is the tikkun, or the restoration of everything to a state of oneness. According to the Zohar, the Jewish messiah destroys the differences between genders, nations, religions and everything else. It is communism in its purest form.

Permata Depok Regency, 5 Januari 2020

Daftar Pustaka

https://justpaste.it/whatisculturalmarxism/pdf

https://tradcatknight.blogspot.com/2016/02/the-satanic-theology-behind-cultural.html

http://www.americanfreedomunion.com/the-satanic-theology-behind-cultural-marxism/

https://foonacha.blogspot.com/2016/01/the-satanic-theology-behind-cultural.html

https://reformedmalaya.blogspot.com/2018/12/synagogue-of-satan-and-satanic-lies.html

http://birthofanewearthblog.com/category/satanism/

http://newworldorderuniversity.com/tag/cultural-marxism-is-satanism/

https://billmuehlenberg.com/2016/04/08/cultural-marxism-war-family/

https://www.newsfollowup.com/congress_of_cultural_freedom_cia_frankfurt_school_mass_psychological_control_soros_nazis.html

https://virtueonline.org/challenge-cultural-marxism-church

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teologi Setan

MARXISME KULTURAL DAN TEORI KRITIK

DAFTAR BACAAN

Oleh :

Prof. Dr. Abdullah M. Jaubah, S.E., M.M.

Pendahuluan

Banyak tulisan mengenai Marxisme, Marxisme Kultual, Teori Kritis, Ruang Publik terdapat  jika internet  dimanfaatkan.  Banyak pula penulis mengenai hal-hal tersebut mungkin tidak mengetahui Teologi setan di balik Marxisme Kultural dan Teori Kritik.  Daftar  Pustaka di bawah ini dapat mengungkap teologi tersebut. Daftar Pustaka ini disajikan agar para penulis Marxisme Kultural dan Teori Kritik perelu pula menyajikan teologi di balik marxisme kultural dan teori kritik. Salah satu skripsi tentang Marxisme Kultural telah ditulis oleh Rocky Gerung dan kritik-kritiknya merupakan imitasi dari  Marxisme Kultural dan Teori Kritik.

Daftar Pustaka

Rocky Gerung (1991). Marxisme Kulturan dan Teori Kritis Jurgen Habermas. Depok : Universitas Indonesia.

https://newworldorderuniversity.com/cultural-marxism-satanism/

http://theunhivedmind.com/UHM/the-satanic-theology-behind-cultural-marxism/

https://tradcatknight.blogspot.com/2016/02/the-satanic-theology-behind-cultural.html

http://birthofanewearthblog.com/the-satanic-theology-of-kabbalistic-jews/

https://reformedmalaya.blogspot.com/2018/12/synagogue-of-satan-and-satanic-lies.html

https://billmuehlenberg.com/2016/04/08/cultural-marxism-war-family/

https://poeticauk.blogspot.com/2014/09/cult-of-all-seeing-eye-luciferian.html

https://www.darkmoon.me/2013/satans-secret-agents-the-frankfurt-school-and-their-evil-agenda/

https://www.christianityapplied.org/cultural-marxism-and-the-synagogue-of-satan/

https://spectator.us/whats-wrong-cultural-marxism/

https://www.nairaland.com/5251452/satanic-kingdom-zion

https://abeautifulresistance.org/site/2019/11/20/whos-afraid-of-cultural-marxism

https://voiceofthefamily.com/dr-anca-maria-cernea-cultural-marxism-a-threat-to-the-family/

http://www.returnofkings.com/114104/what-is-cultural-marxism

 

TEOLOGI SETAN

TEOLOGI SETAN DI BELAKANG MARXISME KULTURAL DAN TEORI KRITIS

Terjemahhan Oleh :

Prof. Dr. Abdullah M. Jaubah, S.E., M.M.

Pendahuluan

Pemikiran David Ricardo mempengaruhi pemikiran Karl Marx. Karl Marx mencipta Marxisme yang mencerminkan substruktur mempengaruhi superstruktur, ekonomi mempengaruhi budaya dan agama. Perubahan substruktur akan mengubah superstruktur. Perubahan substruktur dapat dilakukan jika kaum proreltas yang ditindas oleh kaum kapitalis melakukan revolusi. Perang Dunia I dan Perang Dunia II dialami akan tetapi kaum proletar tidak melakukan revolusi. Hal ini dianggap sebagai kegagalan atau kesalahan dari teori Karl Marx oleh kelompok yang dinamakan Aliran Frankfurt.  Kelompok ini masih memakai gagasan dari Karl Marx dan Fraud. Georg Lukacs,  Max Horkheimer, Theodore Adorno, Erich Fromm, Herbert Marcuse, Benjamin, dan sebagainya merupakan kelompok keturunan Yahudi. Nama Franz Joseph Molitor juga muncul walau bukan anggota dari Aliran Frankfurt. Franz Joseph Molitor dikenal sebagai satanist dan  alchemist yang sangat berminat dalam Kabbalah. Para pakar tersebut merupakan kelompok tertentu dari keturunan Yahudi. Hal ini berarti bahwa Marxisme Kultural dikembangkan oleh kelompok tertentu dari teturunan Yahudi yang dianggap menganut teologi setan (The Satanic Theology Behind Cultural Marxism).

Rocky Gerung (1991) telah menulis skripsi dengan judul Marxisme Kultural dan Teori Kritis Jurgen Habermas. Rocky Gerung melancarkan beberapa kritik. Kritik-kritik dari Rocky Gerung menurut pendapat penulis hanya merupakan imitasi dari Marxisme Kultural dan Teori Kritis. Orang-orang yang tidak mengetahui kritik Rocky Gerung akan terkejut akan tetapi penulis sendiri tidak terkejut karena kritik-kritiknya senada dengan kritik yang dilancarkan oleh kelompok tertentu dari orang-orang Yahudi melalui teori kritis untuk menghancurkan budaya dan agama Kristen di Eropa dan Amerika Serikat dan mengganti dengan  Marxisme Kultural. Penggantian budaya dan Agama Kristen di Eropa dan Amerika Serikat dengan Marxisme Kultural berarti pula penggantian kapitalisme dengan Marxisme.

Rocky Gerung, jika menganut Marxisme Kultural dan Teori Kritik, berdasar atas gagasan mengenai The Satanic Theology Behind Cultural Marxism, berarti juga menerapkan teologi setan tersebut. Skripsi tersebut mencerminkan bahwa Rocky Gerung mungkin mengagumi dan menerapkan gagasan-gagasan yanng terkandung dalam Marxisme Kurtural dan Teori Kritis dalam melancarkan kritik seperti kritik yang dilancarkan oleh Karl Marx dan Fraud. Georg Lukacs,  Max Horkheimer, Theodore Adorno, Erich Fromm, Herbert Marcuse, Benjamin, dan sebagainya.

The Satanic Theology Behind Cultural Marxism

Tulisan mengenai Teologi Setan di Balik Marxisme Kultural perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas dan naskah asil disajikan pula di sini. Hal ini berarti bahwa pembahasan mengenai Teologi Setan di Balik Marxisme Kultural bukan pendapat penulis. Penyajian ini dianggap perlu dilakukan karena pembahasan mengenai Teori Kritis mulai berkembang di Indonesia. Hasil terjemahan ini adalah sebagai berikut :

Orang-orang Yahudi Kabbalistik percaya bahwa Allah dihancurkan oleh tindakan penciptaan, dan bahwa sifat-sifat-Nya terletak sebagai “percikan api suci” dalam Pengakuan Iman yang harus diambil agar Dia dipulihkan menjadi satu (dikenal sebagai tikkun). Kabbalah, karena itu, mengatakan bahwa Mesias tidak akan pernah kembali dan dengan demikian Manusia tidak akan pernah dibebaskan sampai Tuhan dipulihkan menjadi Keesaan. Cara untuk melakukan ini, menurut kaum Kabbalis, adalah memulihkan ketertiban pada kekudusan dan meditasi dari tindakan yang melibatkan Dewa Api.

Seorang Kabbalis dan okultis bernama Sabbatai Zevi, pada tahun 1666, menyatakan dirinya sebagai Mesias Yahudi. Sabbatai Zevi, setelah menjadi mesias, menoleh ke Taurat untuk menyatakan bahwa semua dosa sekarang dianggap “suci” dan bahwa satu-satunya cara untuk “memperbaiki” Allah adalah dengan melakukan tindakan kebobrokan. Kekaisaran Ottoman, setelah banyak pengikut yang hilang,  memaksanya untuk masuk Islam, namun banyak lagi yang masih mengikutinya. Jacob Frank ,  lebih dari 100 tahun kemudian, menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Sabbatai Zevi dan ide-idenya ke tingkat yang bahkan lebih ekstrem. Umat manusia, agar Tuhan sepenuhnya diperbaiki dan datang ke Era Mesianik,  harus menghancurkan semua nilai moral tradisional dan melampaui kebaikan dan kejahatan. Kaum Frankis, demikian sebutan mereka, dapat membayangkan setiap hal mengerikan di mana orang bertunangan: sihir hitam, bertukar istri, pesta pora seks, homoseksualitas, inses, pedofilia, dan suatu bentuk proto-feminisme dan proto-komunisme. Setiap tindakan menjijikkan ini dianggap sebagai “tikkun suci” (pemulihan) Tuhan jika dilakukan dengan niat suci. Mereka berlimpah Apokaliptik Yang Menghina Penciptaan Dunia, Berusaha Membawanya Sampai Akhir Dan Membawa Utopia Mesianik.

Sabat Bunda Sabat dan Frank untuk Memulai Abad ke-19. Kubu Frank yang aktif masih terdapat di Frankfurt, Jerman saat itu. Frankis ini diketahui terkait dengan Freemasonic Lodges yang ada di sekitar kota. Salah satu freemason semacam itu adalah seorang pria bernama Franz Joseph Molitor. Dia adalah seorang satanis dan alkemis terkenal yang sangat tertarik pada Kabbalah, bahkan melangkah lebih jauh untuk mensintesis Kabbalah dengan bentuk “Kristen” yang mesum. Ideologi Sabbatean-Frankist mengambil ini adalah apa yang memimpin. Ia, untuk mempromosikan pandangannya yang sakit dan memutarbalikkan, telah menulis empat jilid buku yang mempromosikan pemahaman durhaka tentang “Yudaisme” dari perspektif Kabbalis dan Sabbatean.

Dua sarjana muda Yahudi dari Berlin awal abad ke-20: Gershom Scholem, yang kemudian menjadi seorang teolog Yahudi yang terkenal, dan sahabatnya, kritikus sastra Walter Benjamin. Scholem dan Benyamin adalah kaum Kababalis dan okultis yang terobsesi dengan Sabbateanisme antinomian dan semua kejahatannya. Benjamin bahkan akan melangkah lebih jauh untuk mengklaim “kedekatan” dengan Jacob Frank, yang mengejutkan mengingat bagaimana Benjamin juga dipengaruhi oleh tulisan setan Friedrich Nietzsche. Dia dan Scholem juga sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan esoteris Yahudi terkenal lainnya: Franz Kafka, Franz Rosenzweig, Martin Buber (yang nantinya akan menjadi teman baik dan secara terbuka mengaku memegang pandangan Sabbatean), Leo Strauss (Bloch menulis sebuah buku berjudul The Spirit of Utopia di mana ia mengaitkan revolusi komunis dengan mesianisme Yahudi, dan beberapa tahun kemudian, Benjamin akan menjadi seorang Marxis.

Filsuf Marxis Terkemuka, di Uni Soviet dan Pertemuan dengan Georg Lukacs,  Melihat Budaya Barat (Terutama dalam Kekristenan) Lukacs adalah salah satu orang kunci di balik penciptaan Aliran Frankfurt. Benjamin, dalam waktu singkat, akan bergabung dengan Aliran Frankfurt dan menjadi salah satu intelektual kunci di belakang Theodor Adorno (teman dekatnya) dan Max Horkheimer (yang menjadi direktur “Aliran”, mengalihkan fokusnya dari ekonomi ke budaya.

Benjamin dapat dibilang Aliran Frankfurt terburuk. Marxisme Kultural sering diabaikan, tetapi ini adalah kesalahan. Benjamin memuat tulisannya tentang konsep dan terminologi sastra dan budaya yang penuh dengan kabbalah dan okultisme. Benjamin, pada bagian awal, The Task of the Translator, membuat referensi yang jelas ke kata “Shattering of the Vessels,” yang menyatakan bahwa semua bahasa modern tidak lengkap dan tidak pernah dapat memberikan deskripsi masyarakat yang sepenuhnya akurat. dan menjadi bahasa “utuh.” Hal ini penting untuk dicatat, karena ide-ide yang diekspresikan dalam teks ini akan menjadi tulang punggung dekonstruksionisme, teknik yang digunakan oleh kaum Marxis Kultural untuk membuktikan bahwa kata-kata dapat berarti apa saja (semua bahasa yang ada tidak lengkap) dan semua hal adalah konstruksi sosial. Penulis anarkis setan dan pedofil Peter Lamborn Wilson berpendapat bahwa Benjamin mencari “penyembahan berhala” Yudaisme, yang merupakan tujuan dari kaum Sabat dan Frankis. Dia meninggal muda ketika menjalankan tangannya sendiri dari penganiayaan Nazi (biarlah dikatakan, bunuh diri dilarang keras dalam Yudaisme otentik), tetapi tepat sebelum itu dia menulis esai singkat yang menggabungkan Marxis dengan “materialisme materialistis”

Benjamin, sejalan dengan narasi kabbalis semi-Gnostik tentang Allah yang hancur yang menyebabkan penderitaan-Nya bagi umat manusia, mengklaim bahwa semua sejarah manusia adalah sejarah penderitaan dan bahwa semua budaya manusia adalah biadab. Satu-satunya cara untuk memperoleh pembebasan umat manusia, menurut Benjamin, adalah mengidentifikasikan diri dengan “perjuangan kelas” Marxis seperti yang telah terjadi sepanjang sejarah dan mengesampingkan gagasan kemajuan yang telah “membutakan” kelas pekerja untuk tidak berperang. Mereka yang dicap sebagai kelas “tertindas” perlu mengingat rasa sakit dan penderitaan mereka karena hati mereka akan penuh dengan kebencian, sehingga memberi mereka dorongan untuk melampaui kebaikan dan kejahatan, bangkit dan menghancurkan kapitalisme dan Peradaban Barat. Dia mengatakan: “Kebencian dan semangat pengorbanan … dipelihara oleh citra leluhur yang diperbudak daripada cucu yang terbebaskan.” Tindakan spontan ini akan membawa revolusi komunis, yang akan menghasilkan penebusan kemanusiaan secara massal. Hal ini persis analog dengan gagasan Sabbatean bahwa Zaman Mesianik hanya akan tiba begitu semua orang jahat. Langkah selanjutnya dalam “penebusan” ini, “Manusia akan menjadi” utuh “karena tindakan Mesias, sesuatu yang disebutkan dalam Zohar (teks kabbalis utama). Hal ini berarti Manusia tidak akan lagi dibagi berdasarkan kelas, jenis kelamin, ras, bangsa atau penanda identitas lainnya. Fakta ini harusnya sejajar dengan agenda Marxis Kultural untuk mengurangi perbedaan antara ras, bangsa, dan jenis kelamin, di antara hal-hal lain. Penting juga untuk dicatat bahwa teks ini ditulis tepat setelah Stalin membuat perjanjian dengan Hitler, dan Marxisme Soviet tampaknya telah kehilangan kualitas penebusannya, dan menggabungkan Marxisme dengan mistisisme Yahudi seharusnya mengembalikan sifat dugaan penebusan komunisme.

Alasan untuk percaya terdapat juga  bahwa buku Dialektika Pencerahan oleh Horkheimer dan Adorno menggunakan banyak tema yang sama dengan esai Benjamin: sejarah manusia adalah sejarah penderitaan dan bahwa semua upaya untuk membebaskan umat manusia hanya memperbudak umat manusia bahkan lebih banyak lagi.  Mereka, tentu saja, meninggalkan Mesianisme pada akhirnya dan nuansa keagamaan, karena mereka kritis terhadap semua agama. Mereka mengatakan alam harus “dibebaskan” dari dominasi umat manusia sebelum konsep alasan yang tidak menghancurkan diri dapat dibentuk.

Hal ini bukan saja merupakan pendahulu bagi gerakan ekologi anti-manusia yang kita lihat sekarang, tetapi juga bergantung pada konsep kabbalis yang sama dengan melihat ke belakang. Horkheimer dan Adorno, dalam buku itu, memuliakan pesta pora seksual orang-orang primitif, mengklaim bahwa etika Kristen terhadap seksualitas telah “menenangkan” seksualitas manusia yang “asli”. Pernyataan ini mengejutkan, mengingat bagaimana orang Sabbate terus-menerus terlibat dalam apa yang disebut pesta pora seks “suci”. Adorno, penting juga untuk dicatat, telah mengulangi pandangan semi-Gnostik tentang dunia dalam Dialektika Negatif. Faktanya, Scholem menyebut buku Adorno sebagai “pembelaan tidak bersalah terhadap metafisika” dan bahkan mencurigai Adorno memiliki ikatan dengan bid’ah Sabbatean sendiri.

Erich Fromm adalah tokoh lain dari Aliran Frankfurt yang sangat dipengaruhi oleh para esoteris Yahudi yang sama dan sering menjadi tamu ke Frankfurter Lehrhaus yang didirikan oleh Rosenzweig dan Buber. Fromm banyak menulis tentang teori “keterasingan” Marx yang tampaknya memiliki nuansa Gnostik yang berat. Fromm, dalam bukunya The Art of Loving, sering membuat klaim bahwa kapitalisme menyebabkan orang tidak saling mencintai, dan berpendapat bahwa hubungan manusia akan lebih kuat di bawah sosialisme (!). Dia juga mengklaim bahwa semua perbedaan seksual antara pria dan wanita dibangun secara sosial dan menolak gender sebagai sesuatu yang bawaan.

Karya-karyanya tentu saja merupakan pendahulu feminisme yang kita lihat saat ini. Herbert Marcuse, sejauh yang paling terkenal dari Aliran Frankfurt, prihatin tidak ada pertanyaan, dia juga dipengaruhi oleh ideologi ini. Eros dan Peradaban mengambil pandangan Freud tentang seksualitas – yang benar-benar Sabbatean, karena Freud mengaku memegang Kabbalah dalam hal yang tinggi – ke tingkat yang bahkan lebih ekstrem. Banyak dari apa yang dipromosikan Marcuse dalam buku mengerikan itu secara langsung mirip untuk hal-hal yang dipraktikkan dan dipromosikan oleh para Sabat dan Frankis. Dia, juga, mengklaim kapitalisme dan moral Kristen mendistorsi seksualitas “asli” dan secara terbuka menyerukan masyarakat di mana tindakan seksual yang paling berdosa dianggap normal. Dia juga mengatakan seksualitas sesat dapat membantu meruntuhkan kapitalisme dan agama Kristen. Bukunya sangat penting, karena memainkan peran besar dalam perkembangan Kiri Baru Amerika, yang memberi kami aborsi atas permintaan, feminisme, dan homoseksualitas yang dinormalisasi. Buku Marcuse yang lain, One Dimensional Man, sangat dipengaruhi oleh pemikiran Martin Heidegger, filsuf Nazi kafir lainnya. Marxisme Kultural jelas  sangat dipengaruhi oleh bentuk iblis mistisisme Yahudi. Sabbateanisme berupaya membawa Era Mesianik dengan menafsirkan Hukum Yahudi secara terbalik sehingga semua dosa menjadi kudus. Teori Kritis, juga, berupaya membawa komunisme dengan menafsirkan budaya Barat dan nilai-nilainya secara terbalik, sehingga hal-hal yang oleh budaya Barat dianggap bermoral dan baik (seperti moralitas agama, keluarga, dan pasar bebas) menjadi jahat dan sebaliknya. Pengaruh Sabbatean-Frankist adalah alasan utama mengapa Teori Kritis mendorong aborsi, homoseksualitas, kehancuran keluarga, feminisme, seni yang merosot, dan komunisme total. Adorno, oleh karena itu, mengutuk apa yang disebut “sifat fasis” dari “kepribadian otoriter” orang yang berpegang pada nilai-nilai Barat tradisional, kontras dengan “kepribadian liberal” yang tidak mampu memenuhi standar nilai-nilai tradisional Barat. Hal itu juga mengapa Benjamin mempromosikan seni dan sastra yang menjijikkan sambil merayakan kematian seni tradisional Barat. Konsep Marcuse tentang “toleransi represif” juga mengikuti model ini, karena mempromosikan sensor bagi mereka yang ingin mempromosikan moralitas agama dan nilai-nilai tradisional tetapi memegang pidato kaum Kiri dengan sangat hormat. Teori Kritis memang merupakan bentuk ilmu hitam. Tema yang berulang dalam semua ini adalah tikkun, atau pemulihan segalanya menjadi satu kesatuan. Zohar menyatakan bahwa Mesias Yahudi menghancurkan perbedaan antara jenis kelamin, bangsa, agama dan yang lainnya. Hal ini merupakan  komunisme dalam bentuknya yang paling murni.

Rangkuman

Marxisme Kultural danTeori Kritis termasuk teori kritis dari Jurgen Habermas dikembangkan berasar atas teologi setan yang menghalalkan larangan-larangan dalam agama dan menolak budaya Barat di Eropa dan di Amerika Serikat. Tulisan ini disusun dengan maksud bahwa para penulis Teori Kritis dan Marxisme Kultural di Indonesia seyogyanya melakukan studi mengenai teologi setan untuk menilai keenaran dari Marxisme Kultural dan Teori Kritis. Beberapa penulis tentang teori kritis telah memuji teori tersebut dan mereka mungkin tanpa mengetahui lteologi setaan yang terkandung di belakang Marxisme Kultural dan Teori  Kritis dari Aliran Frankfurt yang telah didominasi orang-orang Yahudi.

Langkah untuk memahami perilaku Rocky Gerung dapat dilakukan melalui studi dan penghayatan skripsinya yang berjudul Marxisme Kultural dan Teori Kritis Jurgen Habermas. Habermas sendiri dalam bukunya yang berjudul The Theory of Communicative Action yang terdiri dari  dua volume, telah memakai variabel-variabel laten tanpa rincian ke dalam dimensi-dimensi dan tanpa rincian tiap dimensi ke dalam indikator-indikator. Ruang Publik (Public Sphere) jika terdiri dari 30 aktor yang melakukan tindakan komunikatif dideskripsikan dalam diagram jaringan komunikasi, akan menunjukkan struktur sosial atau hubungan sosial yang sangat kompleks dan sulit diinterpretasikan jika tanpa bantuan perangkat lunak komputer. Setiap tindakan komunikasi dari jumlah aktor seperti itu dapat mencerminkan bahwa aktor tertentu mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang lebih besar daripada para aktor lain jika perangkat lunak komputer yang dinamakan Pajek atau Gephi atau SocNetV dipakai untuk melakukan analisis. Hal ini berarti bahwa tindakan komunikatif seperti yang dibahas oleh Habermas tidak mungkin meniadakan pengaruh dan kekuasaan tersebut.

Daftar Pustaka yang disajikan di bawah ini merupakan pembahasan-pembahasan mengenai Teologi Setan di belakang Marxisme Kulturan dan Teori Kritis.

THE SATANIC THEOLOGY BEHIND CULTURAL MARXISM

Kabbalistic Jews believe that God was shattered by the act of Creation, and that His attributes lay as “holy sparks” imbedded in Creation which must be picked up in order for Him to be restored to oneness (known as the act of tikkun). The kabbalist therefore believes that the Jewsish Messiah will never arrive and thus Mankind will never be liberated until God is restored to oneness. The way to do this, according to the kabbalists, is to engage in acts of holiness and meditation in order to retrieve the sparks of God.

In the year 1666, a kabbalist and occultist named Sabbatai Zevi declared himself the Jewish Messiah. Upon his messiahship, he turned the Torah around by declaring that all sins were now considered “holy” and that the only way to “repair” God was to engage in acts of depravity. He lost several followers after the Sultan of the Ottoman Empire forced him to convert to Islam, however, several Jews still followed him. 100 years later, Jacob Frank declared himself to be the reincarnation of Sabbatai Zevi and took those ideas to an even more extreme level. In order for God to be fully repaired and for the Messianic Era to arrive, mankind must destroy all of its traditional moral values and go beyond good and evil. The Frankists, as they were called, engaged in every horrible thing you could imagine: black magic, wife-swapping, sex orgies, homosexuality, incest, pedophilia, and promoted a form of proto-feminism and proto-communism. Every one of these disgusting acts was considered to be a “holy tikkun” (restoration) of God if done with holy intent. They were entirely

apocalyptic who despised the world of creation, seeking to bring about its early end and to bring forth a Messianic utopia.

The Sabbatean and Frankist heresies seemed to disappear by the start of the 19th century. However, there was still an active Frankist stronghold in Frankfurt, Germany during that time. These Frankists were known to be affiliated with the Freemasonic lodges that existed around the city. One such Freemason was a man by the name of Franz Joseph Molitor. He was a known satanist and alchemist who took a strong interest in the Kabbalah, even going so far as to synthesize Kabbalah with a perverted form of “Christianity.” This is what lead him to picking up Sabbatean-Frankist ideology. In order to promote his sick and twisted views, he wrote a four-volume set of books promoting a bastardized understanding of “Judaism” written from a kabbalist and Sabbatean perspective.

These books of Molitor’s would later be picked up in the early 20th century by two young Jewish scholars from Berlin: Gershom Scholem, who later became a famed Jewish theologian, and his best friend, literature critic Walter Benjamin. Scholem and Benjamin were kabbalists and occultists who became obsessed with the antinomian Sabbateanism and all of its evil. Benjamin would even go so far as to claim a “close affinity” with Jacob Frank, which isn’t surprising given how Benjamin was also very influenced by the satanic writings of Friedrich Nietzsche. He and Scholem were also heavily influenced by the writings of other known Jewish esotericists of the time: Franz Kafka, Franz Rosenzweig, Martin Buber (who would later become good friends with both of them and openly admitted to holding Sabbatean views), Leo Strauss (who would become the NeoCon go and Ernst Bloch. Bloch wrote a book called Spirit of Utopia in which he linked communist revolution to Jewish Messianism. In a few years down the line, Benjamin would become a Marxist after living

in the Soviet Union and meeting with Georg Lukacs, the notable Marxist philosopher who saw Western culture (Christianity in particular) as being the main obstacle to communist revolution. Lukacs was one of the key people behind the creation of the Frankfurt School. In no time at all, Benjamin would join the Frankfurt School, and become one of the key intellectuals behind Critical Theory alongside Theodor Adorno (his close friend) and Max Horkheimer (who became the “School’s” director, shifting its focus from economics to culture).

Benjamin was arguably the worst of the Frankfurt School. In every conversation about Cultural Marxism he is often overlooked, but this is a mistake. Benjamin loaded his writings on literature and culture full of concepts and terminology from the kabbalah and the occult. In an early piece, The Task of the Translator, he, while making a clear reference to the kabbalistic “shattering of the vessels,” claims that all modern languages are incomplete and can never give a completely accurate description of anything on the surface until society and language become “whole.” It is important to note, because the ideas expressed in this very text would go on to become the backbone of deconstructionism, the very technique used by cultural Marxists to prove that words can mean anything (given that all existing languages are incomplete) and all things are social constructs. The satanic anarchist writer and pedophile Peter Lamborn Wilson contends that Benjamin sought to “re-paganize” Judaism, which was exactly the goal of the Sabbateans and Frankists. He died young by his own hands while running from Nazi persecution (let it be said, suicide is strictly forbidden in authentic Judaism), but right before doing so he wrote a short essay which combined Marxist “historical materialism” with kabbalist mysticism.

http://www.marxists.org/reference/archive/benjamin/1940/history.htm

Keeping with the semi-Gnostic kabbalist narrative of the broken God that inflicts His suffering onto Mankind, Benjamin claimed all of human history was a history of suffering and that all of human culture was barbaric. To him, the only way to obtain Mankind’s liberation is to identify with the Marxist “class struggle” as it has occurred throughout history and to cast aside the notion of progress which has “blinded” the working classes to not fight. To him, those who are labeled as “oppressed” classes need to remember their pain and suffering sothat their hearts will be full of hate, thus giving them the drive to go beyond good and evil, rise up and destroy capitalism and Western Civilization. He says: “Hatred and [the] spirit of sacrifice…are nourished by the image of enslaved ancestors rather than that of liberated grandchildren.” This spontaneous act will bring about communist revolution, which will bring about a mass redemption of humanity. This is exactly analogous to the Sabbatean idea that the Messianic Era will only arrive once everyone is evil. Furthermore, in this “redemption,” Mankind will become “whole” due to the act of the Messiah, something which is mentioned in the Zohar (the primary kabbalist text). This means Mankind will no longer be divided according to class, gender, race, nation or any other identity marker. This very fact should have parallels with the Cultural Marxist agenda of diminishing the distinctions between races, nations and genders, among other things. It is also important to note that this text was written right after Stalin made a pact with Hitler, and Soviet Marxism seemed to have lost its redemptive qualities, and combining Marxism with Jewish mysticism was supposed to bring back the alleged redemptive nature of communism.

There is also reason to believe that the book Dialectic of Enlightenment by Horkheimer and Adorno uses many of the same themes as Benjamin’s essay: human history is a history of suffering and that all attempts of liberating Mankind have only enslaved Mankind even more. Of course, they leave out the Messianism at the end and the religious overtones, as they were critical of all religion. Instead, they say nature must be “liberated” from Mankind’s domination before a concept of reason that isn’t self-destructing can be formed.

However, not only is this a precursor to the anti-human ecology movement we see today, it also relies on the same kabbalist concept of looking backwards. In the book, Horkheimer and Adorno glorified the sexual orgies of primitive peoples, claiming that Christian ethics towards sexuality have “pacified” the “authentic” sexualities of people. This is striking, considering how Sabbateans were constantly engaging in so-called “holy” sex orgies. It’s also important to note that Adorno repeated his semi-Gnostic view of the world in Negative Dialectics. In fact, Scholem referred to Adorno’s book as an “innocent defense of metaphysics” and even suspected Adorno of holding an affinity with the Sabbatean heresy himself.

Erich Fromm is another figure from the Frankfurt School who was heavily influenced by those same Jewish esotericists and was a frequent guest to the Frankfurter Lehrhaus set up by Rosenzweig and Buber. Fromm wrote heavily about Marx’s theory of “alienation” which seems to possess heavy Gnostic overtones. In his book The Art of Loving, he frequently made the claim that capitalism causes people not to love each other, and argued that human relationships would be stronger under socialism(!). He also claimed that all sexual differences between men and women were socially constructed and rejected gender as something innate.

His works were certainly a precursor to the feminism we see today. As far as the most notorious of the Frankfurt School, Herbert Marcuse, is concerned, there is no question he, too, was influenced by this ideology. Eros and Civilization takes Freud’s views on sexuality – which were

absolutely Sabbatean, as Freud admitted to holding the Kabbalah in high regard – to an even more extreme level. In fact, much of what Marcuse promotes in that awful book is directly akin

to the things the Sabbateans and Frankists practiced and promoted. He, too, claimed capitalism and Christian morals distorted “authentic” sexuality and openly called for a society where the most sinful of sexual acts are considered normal. He also said perverted sexualities can help bring down capitalism and Christianity. His book is highly significant, because it played a huge role in the development of the American New Left, which gave us abortion on demand, feminism and normalized homosexuality. Marcuse’s other book, One Dimensional Man, was heavily influenced by the thought of Martin Heidegger, another pagan Nazi philosopher. It’s clear that Cultural Marxism was heavily influenced by a demonic form of Jewish mysticism. Sabbateanism seeks to bring the Messianic Era by interpreting Jewish Law in reverse so that all sins become holy. Critical Theory, likewise, seeks to bring communism by interpreting Western culture and its values in reverse, so that the things Western culture considers moral and good (such as religious morality, the family, and free markets) become evil and vice-versa. The Sabbatean-Frankist influence is the main reason why Critical Theory pushes for abortion, homosexuality, the breakdown of the family, feminism, degenerate art, and total communism. It is why Adorno condemned the so-called “fascistic nature” of the “authoritarian personality” as one who holds to traditional Western values, contrasting it with the “liberal personality” who was unable to live up to the standards of traditional Western values. It is also why Benjamin promoted disgusting art and literature all while celebrating the death of traditional Western art. Marcuse’s concept of “repressive tolerance” also follows this model, as it promotes the censorship of those who wish to promote religious morality and traditional values but holds the speech of Leftists in the highest regard. Critical Theory is indeed a form of black magic. The reoccurring theme in all of this is the tikkun, or the restoration of everything to a state of oneness. According to the Zohar, the Jewish messiah destroys the differences between genders, nations, religions and everything else. It is communism in its purest form.

Permata Depok Regency, 5 Januari 2020

Daftar Pustaka

https://justpaste.it/whatisculturalmarxism/pdf

https://tradcatknight.blogspot.com/2016/02/the-satanic-theology-behind-cultural.html

http://www.americanfreedomunion.com/the-satanic-theology-behind-cultural-marxism/

https://foonacha.blogspot.com/2016/01/the-satanic-theology-behind-cultural.html

https://reformedmalaya.blogspot.com/2018/12/synagogue-of-satan-and-satanic-lies.html

http://birthofanewearthblog.com/category/satanism/

http://newworldorderuniversity.com/tag/cultural-marxism-is-satanism/

https://billmuehlenberg.com/2016/04/08/cultural-marxism-war-family/

https://www.newsfollowup.com/congress_of_cultural_freedom_cia_frankfurt_school_mass_psychological_control_soros_nazis.html

https://virtueonline.org/challenge-cultural-marxism-church

ROCKY GERUNG

ROCKY GERUNG, MARXISME KULTURAL DAN TEORI KRITIS JURGEN HABERMAS

Rocky Gerung sering melancarkan kritik. Hal ini dapat dimaklumi karena Rocky Gerung telah melakukan studi dan penghayatan mengenau Marxisme Kultural dan Teori Kritik Jurgen Habermas (1991) sebagaimana tercermin dalam skripsinya.

Marxisme Kultural dan Teori Kritis ditambah dengan konsep rasionalitas, liberating, toleransi, dipakai untuk melakukan kritik terhadap pemerintah, lembaga-lembaga formal, budaya, agama, dan politik.  Tujuan yang tersembunyi dari Marxisme Kultural dan Teori Kritis dari aliran Frankfurt adalah menghancurkan budaya Western dan mengganti dengan Marxisme Kultural melalui media massa, lembaga-lembaga pendidikan, dan para pakar dalam lembaga pendidikan. Suatu pendapat yang berbeda dengan rasionalitas, political correctness, toleransi menurut penafsiran mereka adalah tidak rasional, political incorrectness, intoleransi. Kalimat bodoh sering pula dipakai  dan  arti kata bodoh akan diberi makna berbeda.

Arti kata rasionalitas juga akan diberi arti berbeda jika dipakai oleh para penganut Aliran Frankfurt, para pakar ekonomi, para pakar sosiologi, para pakar biologi revolusioner, dan para pakar administrasi publik. Herbert A. Simon menganggap rasionalitas itu terikat (bounded rationality). Konsep ini akan ditolak oleh para penganut aliran frankfurt karena tidak sesuai dengan gagasan mereka. Mereka menganggap gagasan mereka adalah gagasan yang paling benar, paling demokratis, paling humanistis, paling lengkap, paling sempurna, paling sesuai dengan rasionalitas sedangkan gagasan lain adalah sebaliknya. Mereka katanya anti dominasi akan tetapi gagasan mereka ingin mendominasi.

Orang yang mengatakan UI adalah bodoh adalah orang bodoh karena UI sebagai organisasi atau sebagai institusi terdiri dari aspek-aspek fisik, gedung-gedung, jalan-jalan, dan aspek non fisik yaitu para alumni, para pengajar, para pegawai, dan para mahasiswa. Hal ini berarti bahwa UI itu bodoh berarti aspek fisik dan aspek non fisik adalah bodoh.

William S. Lind telah melakukan penelitian dan hasil penelitian ini tercermin dalam judul who stole our culture? Lind menganggap bahwa budaya Amerika Serikat telah dicuri oleh para penganut aliran Frankfurt tatkala mereka pindah ke Amerika Serikat.

Uraian singkat ini mengungkap bahwa Rocky Gerung (1991) menerapkan konsep-konsep yang terkandung dalam skripsinya yang berjudul Marxisme Kultural dan Teori Kritis Jurgen Habermas. Hal ini berarti pernyataan-pernyataannya dan kritik-kritiknya biasa dilakukan oleh para penganut aliran Frankfurt.